Judul : [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (1/3)
link : [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (1/3)
[Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (1/3)

The Messenger
Walaupun kemarin terasa buruk –bagi Saira, tidak membatalkan rencana sebelumnya untuk jalan-jalan ke taman Safari. Pagi-pagi dia tetap menghubungiku dan seolah keranjingan, dia memintaku untuk menjemputnya langsung ke rumah.
Semalam, saat mengantarnya pulang aku terpaksa ikut turun dan harus bertemu ibunya yang membukakan pintu karena Saira tertidur sepanjang perjalanan akibat kelelahan. Untungnya aku lebih dulu mengenal ibunya sehingga tidak ada perasaan canggung ketika aku harus kembali ke rumah itu. Wanita itu bahkan sempat memintaku untuk singgah sebentar tapi tentu aku menolak dan jawaban lain kali yang kuucapkan padanya terwujud pada keesokan harinya. Sambutannya begitu hangat sampai-sampai Saira malah merasa tidak enak padaku seakan kebaikan itu tidak wajar ditujukan terhadapku.
Alfie dan Ananda bersemangat di awal perjalanan dan separuhnya mereka habiskan untuk tidur di mobil. Namun begitu tiba di Bogor, ibarat baru saja dicas mereka ceria kembali. Satu-satunya binatang yang paling ingin Alfie lihat adalah jerapah. Sedangkan Ananda hampir takjub dengan semua binatang yang kami temui sepanjang perjalanan. Kata Saira itu pertama kalinya mereka mengunjungi Taman Safari karena biasanya mereka lebih sering ke Ancol dan melihat satwa laut.
Selama jalan-jalan, kedua bocah itu akur-akur saja. Berbeda dengan saat Alfie bermain dengan Gabriel. Pasti ada saja yang menangis dalam permainan dan yang paling sering adalah Gabriel karena memang Alfie sedikit lebih nakal dan agresif. Namanya juga anak laki-laki. Tapi, dengan Ananda, dia suka sekali berbagi. Termasuk dengan es krim yang dia makan. Aku melihat Alfie menawarkan es krim coklat yang di pegangnya pada Ananda saat gadis kecil itu menangis gara-gara es krim miliknya terjatuh. Dalam perjalanan kami disuguhi hal-hal klasik yang manis dari bocah-bocah itu. Saira bahkan terlihat sudah melupakan apa yang baru saja dia alami dengan lebih banyak tertawa.
Dan menjelang malam, keheningan kembali terasa di mobil yang melaju kembali ke Jakarta. Mereka sudah tertidur di belakang dengan damai. Alfie bersandar ke sisi kanan sedang Ananda terlentang pulas di atas jok.
“Aku senang nggak melihat Alfie jahil pada anak lain,” kataku, memecah kesunyian itu di saat Saira agaknya kembali termenung.
“Memangnya Alfie jahil?” tanya dia menanggapi.
Aku mengangguk. “Mungkin dia nggak mau jahil sama anak perempuan,” kataku.
Saira pun tertawa. “Ya. Kelihatannya Nanda juga senang dapat teman main yang nggak jahil,” komentarnya. “Lain kalau dengan kakaknya. Sunny hobi sekali mempermainkan adiknya sampai menangis.”
“Oh ya?” aku sedikit terkejut.
“Ya, dia nggak bakal senang kalau sehari itu nggak bikin adiknya nangis,” jelas dia.
“Kamu sering marah?” tanyaku.
Saira berubah murung. “Kalau aku sudah marah dia pasti merajuk seolah-olah aku ini lebih sayang Ananda daripada dia,” jelasnya. “Aku sendiri juga nggak mengerti padahal di sekolah juga Sunny bukan anak nakal tapi kenapa dia jadi begitu sama adiknya.”
“Cemburu antar anak-anak itu biasa terjadi,” kataku. “Apa lagi kamu punya satu yang usianya jauh lebih kecil yang pasti lebih diperhatikan.”
“Aku pikir itu jadi pemicu kenapa Sunny nggak mau tinggal sama aku....”
“Karena merasa kamu pilih kasih?”
“Bisa jadi, Harrish...,” katanya. “Aku memang sangat memperhatikan Ananda. Kamu tahu sendiri... dia... nggak punya sosok seorang ayah. Berbeda dengan Sunny. Walaupun aku dan ayahnya nggak bersama, dia tetap bisa merasakan kehadiran keduanya. Sedangkan Ananda?”
“Ngomong-ngomong soal Sunny... apa yang akan kamu lakukan?”
Saira terdiam, cukup lama hingga aku merasa sedikit bersalah telah menanyakan itu. Padahal kami baru saja menghabiskan satu hari dengan gembira dan sekarang aku harus kembali melihatnya murung.
“Aku nggak akan bisa berbuat apa-apa jika memang Sunny lebih memilih ayahnya. Tapi, aku tahu bahwa aku nggak akan sanggup untuk itu,” katanya. “Di sisi lain, aku sadar dengan kesalahanku selama ini dan sepertinya sudah terlalu terlambat.”
“Terlambat untuk apa?”
Dia lagi-lagi tidak menjawabku. Sekarang, mendung benar-benar menguasai raut wajahnya. Mungkin jika pembicaraan ini dilanjutkan dia akan menangis lagi seperti kemarin. Namun ujung kalimatnya itu membuatku jadi ingin bertanya sesuatu padanya; sesuatu yang sebenarnya tidak boleh kutanyakan tapi benar-benar membuatku penasaran.
“Saira, pernahkah kamu berpikir untuk kembali pada Sidney demi Sunny?” tanyaku.
Seketika kedua matanya membidikku. Tentu dia sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Dia tidak menjawabku namun tatapannya itu menyiratkan keraguan dan kebingungan yang sangat.
“Kamu pasti punya alasan untuk setiap jawaban. Kalau memang pernah terpikirkan, pasti ada sesuatu yang menahan kamu untuk nggak melakukannya,” ujarku.
Kurasakan Saira menghela nafas panjang. “Kami memang nggak ditakdirkan untuk kembali,” kata dia dengan suara rendah. “Nasib seakan terus menjauhkan kami nggak peduli betapa pun aku dan Sidney mencari jalan untuk bertemu. Semakin lama jarak itu semakin jauh.”
“Setahuku semua hubungan memang selalu memiliki rintangan,” komentarku.
“Nggak, Harrish. Ini sangat berbeda,” katanya.
“Dari semua rintangan itu, menurut kamu mana yang paling nggak bisa dipecahkan?”
“Semua itu sangat berat. Untungnya sudah berlalu dan saat ini aku benar-benar ada di ujung dan nggak punya pilihan.”
“Kamu dan Sidney sama sekali nggak pernah bicara baik-baik?”
“Untuk apa? Kami sudah sama-sama memutuskan nggak akan melihat ke belakang. Toh, dia sudah bertemu dengan orang lain.”
“Maksud kamu Sidney sudah punya pacar baru?”
Saira menatapku cukup lama. “Kamu tahu itu,” katanya seakan memberi petunjuk yang sepertinya ada hubungan denganku.
Aku nyaris tidak percaya. “Sabina?” tanyaku.
“Kelihatannya dia cukup menyukai Sabina untuk terlibat dalam rencana menjatuhkan kamu. Kenapa dia mau melakukan itu? Ya, aku tahu Sidney memang sosok baik hati yang pasti menolong siapa pun yang butuh bantuan. Tapi, apa yang dia lakukan untuk Sabina adalah sesuatu yang besar. Bukan sekedar memberi bantuan pada orang yang susah secara materi dan ekonomi melainkan terlibat dalam sebuah konspirasi jahat dan permainan berbahaya. Aku kenal Sidney, mana mungkin dia mau terlibat kalau nggak ada sesuatu yang mendasari dia untuk melakukannya. Satu-satunya yang masuk akal adalah dia mungkin tertarik pada Sabina.”
“Apa itu yang dimaksud oleh Pevita soal sesuatu yang harusnya aku tahu dari kamu?”
Saira diam beberapa saat. “Begitulah,” jawabnya. “Aku nggak mau bilang ke kamu karena itu ibarat menambahkan bensin ke dalam api. Toh, kamu sudah mengusirnya dan kalian berakhir. Pernah terpikir di mana Sabina sebenarnya saat dia menghilang? Dia bersama Sidney. Sidney menyembunyikannya selama ini.”
Sidney terlibat sejauh itu?
“Kamu pasti nggak akan percaya,” sambung Saira. “Kamu masih bertanya kenapa Pevita marah sama aku kemarin?”
“Kenapa?”
“Dia mengira setelah aku tahu bahwa selama ini Sabina bersama Sidney, aku melakukan semacam pembalasan dengan mendekati kamu. Dia kesal karena salah mengira di antara kita terjadi sesuatu.”
Tawa hampir terlompat dari bibirku di saat yang sama aku merasa heran.
“Saat ini kita hanya berada di posisi yang sama, Pevita mungkin belum paham.” jelas Saira. “Lagian aku nggak mengerti kenapa akhir-akhir ini Pevita menyembunyikan banyak hal setelah dia bilang dia harus mencari tahu. Tapi, kalau diperhatikan, dia cenderung melakukan semua ini demi Fero. Dia nggak puas dengan tindakan Fero. Kenapa dia mengkhianati kamu, apa yang dia dapatkan dengan terlibat dengan Sendra, dan kenapa dia setega itu. Apakah karena kamu bos yang kejam, entah. Pevita terus memikirkannya.”
“Dari awal Fero memang ditugaskan untuk memata-matai, bukan?” balasku. “Dia dibayar untuk itu. Kamu pikir apa lagi alasan yang tepat?”
Saira menggeleng-geleng. “Pevita nggak sependapat dengan kita,” katanya.
“Apa Pevita suka dengan Fero?”
“Aku pikir juga begitu.”
“Cinta kadang-kadang menutup akal sehat.”
“Aku sudah bilang begitu ke dia. Tapi, dia bersikeras kalau itu bukan bentuk kebodohan. Aku senang, akhirnya Pevi bisa suka pada seseorang. Hanya saja, orang ini adalah Fero. Aku nggak habis pikir kenapa Pevi terlalu naif soal ini.”
“Memang sejauh mana dia mencari tahu soal Fero?”
“Dia memulainya dari bagian perekrutan di kantor kamu untuk mencari tahu Fero masuk atas rekomendasi siapa. Bagaimana kemudian dia bisa menjadi PA kamu padahal semua orang tahu sulit bagi orang baru untuk bisa beradaptasi dengan kamu. Pevita bilang, itu karena Fero memahami kamu seolah dia mengenal kamu sejak lama.”
“Itu masuk akal. Sebelum masuk ke perusahaan seseorang pasti memberinya ‘training’ tentang aku. Ya, seingatku, aku hampir nggak pernah mengeluh soal kinerja Fero. Dia memang melakukannya dengan sempurna. Mungkin itu yang membuat aku nggak sadar bahwa dia sedang menyamar.”
“Aku masih penasaran dengan apa yang seharusnya dikatakan Pevita dari kemarin,” kata Saira lagi. “Menurut kamu pembelaan macam apa yang akan dikatakan Pevita ke kamu soal Fero? Di bagian mana dari semua rangkaian kejadian ini yang menempatkan Fero sebagai orang yang nggak bersalah? Apa karena keluarganya diancam oleh Sendra kalau dia nggak mau terlibat? Penjahat selalu menggunakan ancaman untuk memaksa seseorang ‘kan?”
“Apa pun alasan Fero melakukan ini, bukan sesuatu yang bisa diterima. Sungguh, aku benar-benar nggak mau tahu lagi tentang Sabina, Sidney apalagi Fero. Semuanya sudah terjadi. Nggak ada lagi yang bisa kita lakukan, Saira.”
Kedengarannya mungkin aku putus asa pada kenyataan. Tapi, saat ini aku lebih percaya pada waktu. Waktu akan berlalu, memupus semua ini. Meski pun kadang aku tidak sabar karena hari semakin berat. Seakan setiap pagi, aku tidak ingin bangun hanya untuk melihat matahari. Ketika malam tiba pun aku tak mudah tertidur. Dalam mata terpejam, aku masih melihat dia. Sulit untuk lepas dari bayangannya sekalipun setiap kali kupaksa diriku untuk melupakan tapi rasanya sama dengan menusuk diri sendiri.
Bagaimana semua itu bisa dilupakan?
***
Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (1/3)
Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (1/3) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-roman-dewasa-getting-her_33.html
0 Response to "[Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (1/3)"
Post a Comment