Judul : [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (3/3)
link : [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (3/3)
[Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (3/3)

Baiklah, dalam map itu aku menemukan berkas-berkas yang sangat familiar. Bagaimana tidak? Ini adalah berkas-berkas milik keluargaku yang hilang dari rumah; berkas-berkas yang kata ibuku dicuri Sabina saat aku lengah. Akta-akta perusahaan, surat-surat tanah, beberapa berkas kepemilikan lainnya dan tentu saja berkas proyek yang diambil diam-diam oleh Fero.
Sabina menyimpan semua ini lalu mengembalikannya padaku?
Ada apa ini?
Di antara berkas-berkas itu, aku juga menemukan sebuah smartphone.
Aku memandangi benda itu beberapa saat sebelum menyalakannya. Smartphone itu sekilas kosong tapi ada sebuah rekaman pada galeri dengan thumbnail foto Sabina yang sedang menghadap kamera. Sepertinya itulah pesan yang dimaksud kakak beradik itu.
Tanganku gemetaran saat membuka rekaman itu. Tentu saja. Aku sudah cukup lama tidak melihat wajahnya dan di thumbnail itu wajahnya kelihatan pucat.
“Hai,” dia menyapa menatap ke kamera dengan canggung. “Aku harap kamu nggak langsung mematikannya hanya karena kamu nggak mau melihatku lagi....”
Aku terpana memandangi sosoknya yang mengenakan sweater merah muda yang tampak kebesaran di badannya. Rambutnya terlihat lebih panjang dari terakhir aku melihatnya. Wajahnya memang pucat. Dia tidak merias diri. Ya, sejak menghilang beberapa kali, aku jarang melihatnya berdandan.
“Aku tahu saat ini kamu nggak butuh permintaan maaf....” Sabina tertunduk, terdengar tarikan nafas yang mengisyaratkan bahwa ia sedang menahan tangis. Lalu kembali melihat ke kamera; sejenak ia tampak bingung dan diam. Lalu tertunduk lagi, menarik nafas lagi dan kembali menatap kamera; seolah sedang menatapku. “Padahal kamu nggak di sini, aku masih merasa takut. Mungkin... karena terakhir kali, kamu marah sampai kelihatan mau memukulku....”
Entah mengapa, perkataannya itu membuatku sedih. Aku membuatnya ketakutan.
“Kamu menakutkan kalau marah...,” dia berkomentar dan air matanya menetes hanya saja entah mengapa dia tersenyum.
Menurutku, justru dialah yang jauh lebih menakutkan di saat sedang emosi.
“Tapi, aku tahu kamu nggak mungkin memukulku...,” celotehnya; sepertinya dia berusaha untuk tetap bicara walaupun terlihat bertele-tele. Sabina benar-benar terlihat gugup. “Paling-paling kamu melampiaskannya ke benda mati. Contohnya koperku. Kamu menendangnya sampai patah. Apa salah koperku sampai kamu merusaknya?”
Dia membuatku ke masa lalu. Ya, aku benar-benar marah karena dia akan pergi meninggalkanku hanya karena sudah punya tempat tinggal baru. Aku sudah sangat terbiasa dengan kehadirannya di sini dan merasa ada yang hilang jika dia pergi. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak ingin dijauhi oleh siapa pun.
Aku tersenyum; walaupun terlihat sedih dia sedikit menggemaskan. Mungkin karena sweater merah muda yang kebesaran dan rambut yang sedikit acak-acakan itu.
“Aku sudah lama nggak melihat kamu begitu...,” sambung dia, sambil menyeka hidungnya dengan lengan sweater itu dan menatap kamera dengan ragu. “Aku pikir kamu nggak akan sampai mengusirku. Tapi... sepertinya aku keliru karena terlalu percaya diri kamu akan mendengarkan aku dulu.... aku lupa kalau kamu tetap saja Harrish.... kamu nggak pernah berubah walaupun dari hari ke hari kamu makin tua....”
Kali ini dia membuatku tertawa. Aku benar-benar merindukannya dan perlahan menyesali kejadian hari itu. Kenapa aku mengusirnya?
“Tapi, itu wajar,” lanjut Sabina; fokus ke kamera. Kembali mengusung senyum yang mengisyaratkan bahwa dia tampak mengerti. Perlahan dia mulai tenang. Dia tertunduk lagi; cukup lama untuk menarik nafas dan kembali terlihat tidak sedang menahan tangis. “Aku menyakiti kamu dan kamu bertanya-tanya kenapa aku berbohong. Kenapa aku memilih seperti ini padahal aku tahu kamu pasti melindungiku apa pun yang terjadi....”
Tentu saja. Aku akan melindunginya.
“Hari saat kamu mengizinkan aku masuk ke dalam hidup kamu, aku tahu akan menjadi kelemahan terbesar kamu. Aku akan menghadapi ancaman dan bahaya yang nggak pernah terlintas bahkan dalam mimpi sekalipun. Itulah alasan kamu menjauh dari semua orang, tapi... kamu memberiku tempat...,” kata dia. “Sebenarnya, aku nggak ingin menjadi kelemahan kamu. Aku... sudah bilang ‘kan? Aku justru ingin menjadi kekuatan buat kamu sehingga nggak ada satu orang jahat pun yang mengira mereka bisa memanfaatkan aku untuk menghancurkan kamu. Dan aku nggak memberi mereka kesempatan itu, sekalipun itu artinya kita harus hidup seperti ini....”
Sungguh, aku tidak mengerti. Aku tidak bisa menerima alasan seperti itu.
“Karena... satu kali aku pernah nyaris kehilangan kamu untuk selama-lamanya...,” Sabina meneteskan air matanya. Dia tertunduk, tampak tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Terdengar suara tarikan nafas panjang disertai cairan yang mengisi rongga hidungnya.
Apa?
“Apa yang nggak mungkin Sendra lakukan terhadap kamu?” dia bertanya dengan tatapan terluka. “Dia nggak akan pernah berhenti sampai dia bisa menghadiri pemakaman kamu....”
Seandainya aku berada di sana, aku akan memeluknya dan mengatakan bahwa dia tidak perlu mencemaskan itu. Aku tidak akan membiarkan orang itu menyentuhku. Walau kenyataan Sendra menghancurkan reputasiku belum tentu dia bisa membunuhku. Tanpa harta pun aku masih bisa hidup asalkan Sabina bersamaku. Dia boleh mengambil semuanya jika itu harus ditukar dengan Sabina.
Sabina menggeleng, seakan membantahku. Dia masih menangis. “Kamu tahu... aku menderita saat kita berpisah. Duniaku seakan runtuh saat kamu meninggalkanku. Aku pikir aku nggak bisa melanjutkan hidupku tanpa kamu. Sulit sekali untuk bangkit sampai aku berpikir untuk membenci kamu hanya agar bisa bertahan hidup.”
Kata-katanya entah mengapa begitu menusuk hatiku. Ya, kadang-kadang aku masih tidak memaafkan diriku karena mencampakannya.
“Aku memang salah memutuskan masuk ke kandang singa dengan beranggapan di mana pun aku berada kamu nggak akan peduli. Aku kira uang dan hidup berkecukupan dari hasil keringat sendiri akan menghapus kepedihan yang kamu tinggalkan.” Sabina menggeleng lagi. “Tapi, nggak berhasil. Kamu bisa melupakan semuanya karena kamu sakit setelah kecelakaan itu, sedangkan aku? Aku mengingat setiap detilnya dan setiap kali mendengar nama kamu disebut, aku masih bertanya dalam hati, apakah kamu akan mengingat atau tetap lupa selamanya. Bagaimana kalau kamu ingat, apa kamu akan kembali padaku atau malah memilih untuk melupakan karena kamu sudah menikah dan punya anak? Seringkali aku mengutuk nasib yang nggak adil padaku. Kenapa harus ada kecelakaan yang mengubah segalanya? Kenapa kamu harus hilang ingatan? Kenapa ini harus terjadi padaku?”
“Pada akhirnya, aku terjebak di kandang singa itu. Tapi, paling nggak, keberadaanku di sana menyadarkanku bahwa takdir Tuhan selalu yang terbaik sekalipun kita membencinya. Saat ini, aku masih bersyukur, walaupun karenanya kita harus berpisah dan mengalami waktu-waktu yang sulit, kamu hanya hilang ingatan.... Paling nggak, kamu masih hidup sekalipun itu menuntun kita ke jalan yang berbeda. Saat ini, aku masih bersyukur, bisa melihat kamu bernafas karena nggak akan terbayangkan... kalau seandainya dalam kecelakaan itu kamu nggak selamat karena itulah tujuan dari kecelakaan itu terjadi.”
Jantungku berdegup kencang. Memoriku kembali ke hari di mana aku mengendarai mobilku dari Bandung untuk menghadiri wisuda Sabina.
“Malam itu aku ketemu Sendra,” Sabina melanjutkan. “Malam di acara ulang tahun perusahaan. Dia menegaskan bahwa semuanya belum berakhir hanya karena aku kembali bersama kamu. Dia bisa membuat satu kecelakaan lagi dan memastikan bahwa kali ini kamu benar-benar mati.”
Kecelakaan itu disengaja? Aku memang melaju dengan kecepatan tinggi karena buru-buru. Saat ada sebuah mobil yang melambat di depan aku membanting setir ke kiri untuk menghindarinya. Karena sudah kehilangan kendali lantaran terlalu kencang, aku menabrak pembatas jalan dan terperosok ke pinggir. Sebuah pohon besar menantiku dan tabrakan itu meremukan bagian depan mobil. Aku terjepit karena mengenakan seatbelt dan airbag tidak berfungsi. Benar, dokter saja berani berkata bahwa hanya keajaiban yang membuatku masih hidup.
Apa mobil di depan itu memang sengaja melambat agar aku menghindar?
“Jelas aku ketakutan dan memutuskan pergi. Aku kebingungan karena musuh kamu sekarang bukan hanya Sendra. Tapi, juga Bastian. Dia berada di Bali bukan karena kebetulan. Sejak itu dia terus menerorku. Juga meneror Ibu dan Sekar. Karena itulah aku harus mengamankan banyak hal dari mereka. Aku terpaksa mengikuti permainan itu....”
Harusnya dia menceritakannya padaku. Bukan menghadapinya sendirian!
Kenapa Sabina? Kenapa kamu harus melakukannya sendiri?
“Kamu jangan khawatir. Aku bukan lagi Sabina yang dulu,” Sabina masih bicara. Dia sudah menghapus air mata di wajahnya lalu tersenyum. Berusaha terlihat tenang setelah beberapa saat lalu dia hampir membuatku ikut menangis karena pengakuannya. “Aku belajar banyak di kandang singa itu karena aku tahu aku adalah salah satu pion Sendra yang akan dia jalankan untuk menghadapi kamu. Kalau kamu tahu ini dari awal, kejadiannya akan lain. Konfrontasi akan membuat dia menjalankan rencana yang paling mudah, melenyapkan kita berdua. Dia masih butuh kamu dalam keadaan hidup paling nggak kembali mendapatkan semua yang kamu rampas. Satu-satunya cara dengan memanfaatkan aku.”
Pada akhirnya Sendra mendapatkan apa yang dia inginkan. Setelah ini apa lagi? Apa dia masih berpikir untuk membunuhku?
“Tapi, dia nggak akan mendapatkannya semudah itu,” tegas Sabina. “Kelihatannya dia menang, Harrish.”
Benarkah? Bagaimana dia memastikannya.
Perhatianku tiba-tiba teralihkan pada berkas-berkas yang sudah kuterima darinya.
“Aku mengambil berkas itu karena Sendra akan membutuhkannya untuk memaksa ibu kamu menyerahkan semuanya. Tentu, dia mengancam akan membunuh kamu kalau dia nggak mau. Pastinya dia akan melakukan apa yang Sendra mau daripada harus kehilangan kamu. Aku juga menyuruh Fero mengambil berkas proyek agar dia nggak melenyapkannya untuk menghapus jejak kamu di sana. Mereka bisa mengklaim proyek itu sebagai milik mereka tapi mereka nggak sadar bahwa itu hanya bumerang.”
Pertanyaannya apakah Sendra dan Bastian tahu bahwa berkasnya sudah kembali padaku? Aku menjadi tidak tenang. Walaupun aku terharu, Sabina melakukan banyak hal tidak terduga untuk menyelamatkanku tapi ini tetap saja keliru. Dia justru malah membahayakan dirinya sendiri! Aku tidak tahu dia berada di mana! Aku yakin saat ini Sendra pasti sedang memburunya!
“Ini hanya soal waktu...,” Sabina tampak meyakinkanku. “Aku harus sembunyi. Semua yang terlibat harus sembunyi.”
Iya, tapi di mana?
Aku menjadi tidak sabar pada rekaman itu. Sialnya, itu hanya sebuah rekaman yang jelas dibuat kemarin atau hari-hari sebelumnya! Bisa saja saat ini dia sudah tertangkap dan entah apa yang dibuat dua bajingan itu padanya. Namun, terpikir untuk segera menghubungi Pevita agar dia mempertemukanku dengan Fero dan Jessica. Mereka pasti tahu di mana Sabina saat ini!
“Sebelum ini aku bingung. Nggak tahu cara memberitahu kamu soal ini. Kamu marah, aku takut. Aku tahu, kamu juga merasakan hal yang sama denganku saat ini,” kata dia, kembali meneteskan air mata. “Nggak mudah untuk bersama ‘kan? Walaupun kelihatannya kita bisa saja lari dan menghilang. Tapi, aku nggak mau hidup dalam rasa takut akan diburu... aku harus menghentikan pemburu mengejar kita....”
Ucapannya lagi-lagi membuatku sedih bercampur depresi. Andai saat ini dia ada di sisiku.
“Aku nggak ingin keberuntunganku dicintai laki-laki seperti kamu berakhir begitu saja...,” ucapnya lagi, tak hentinya membuatku tersenyum getir. “Walaupun kamu sombong, kasar dan menjengkelkan, dan sekarang... juga sudah makin keriput. Entah, mungkin... karena nggak banyak laki-laki selain kamu dalam hidupku dan kalaupun ada, kamu malah menyingkirkannya seakan aku ini akan selalu menjadi milik kamu. Hei, itu nggak adil! Aku kesal karena kamu begitu mudah didekati perempuan dan aku benar-benar cemburu karena nggak bisa ada di sisi kamu. Kenapa kamu masih saja disukai padahal kamu punya banyak tabiat jelek? Memangnya perempuan itu bakalan sanggup mendengar kamu marah-marah dan menghina? Belum lagi gila kerja. Ya Tuhan, hidup ini benar-benar nggak adil....”
Kali ini dia membuatku tertawa. Dia mengomeliku?
Apa dia sadar bahwa dia sudah menjadikanku laki-laki paling bodoh sedunia?
“Tapi, kayaknya kita impas, walaupun belum benar-benar impas...,” kata dia lagi, sambil memutar matanya yang kemerahan. Air matanya masih menetes tapi ia tetap tersenyum. “Kamu mendorongku di lift dan itu benar-benar sangat kurang ajar. Sungguh, kalau kamu ada di depanku saat ini aku akan... akan...”
Sabina tertunduk, melanjutkan tangisnya. Lalu menatap kamera dengan mata berbinar.
“Aku akan memukul kamu sampai mati! Biar saja kamu mati di tanganku! Dasar tua!”umpat dia, sementara aku tertawa. “Kamu benar-benar membuatku sengsara!”
Rengekannya tiba-tiba menjadi keras. Sabina meratap dan aku semakin ingin memeluknya.
“Kamu itu...,” dia masih mengomel. “Kamu beruntung nggak ada di sini....”
Saat ini, aku rela jika dia memukulku sampai mati.
Kemudian, ia berhenti bicara. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja; tempat alat rekamnya berada. Aku bisa mendengarnya menangis dan merengek seperti anak kecil. Ternyata dia tetap saja Sabina yang pernah kukenal. Walaupun dia pernah terlihat begitu keras dan dingin, bahkan cenderung kasar padaku beginilah sifat aslinya yang tidak bisa dirubah. Dia tetap perempuan yang lemah sekalipun telah melakukan hal yang begitu besar untukku.
“Aku merindukan kamu...,” katanya begitu ia melihat ke kamera lagi setelah aku menunggunya cukup lama berhenti menangis. “Tapi, aku nggak yakin kamu menonton video ini. Aku rasa begitu kamu melihat Fero dan Jessica kamu bakal langsung mengusir mereka seperti kamu mengusirku. Mungkin lebih parah dan mereka pasti melarikan diri sebelum menyampaikan pesanku. Mereka ‘kan tahu kalau kamu mengerikan....”
Aku memang emosi tapi aku berhasil mengendalikan diriku begitu mendengar Jessica menyebut namanya. Apa dia benar-benar mengira bahwa aku masih seperti yang dulu?
“Ah, kenapa kamu begitu mengesalkan?” dia kembali mengomel, sambil menyeka hidung dan terisak. “Kenapa ibu kamu melahirkan manusia seperti kamu?”
Aku tak berdaya menyaksikannya harus menangis seperti itu.
“Dan kenapa... kenapa aku begitu mencintai kamu?” dia memandang ke kamera lagi; memandangku lekat-lekat. “Kenapa?”
Akhirnya aku mendengar kata-kata yang selalu kuharapkan itu darinya. Tanpa kusadari, tetesan panas membasahi pipiku.
“Apa karena kamu ganteng?” dia mengoceh lagi. “Dulunya iya. Waktu pertama kali kita bertemu. Sekarang kamu sudah berumur. Ingat itu. Kamu sudah berumur dan kalau kita pergi berdua, orang-orang pasti mengira aku jalan dengan om-om.”
Aku tidak ingat sudah berapa kali dia mengataiku tua, tapi itu selalu membuatku tertawa.
Lagi-lagi dia menjatuhkan kepalanya di atas meja, sepertinya mulai frustasi.
“Ah, aku pasti sudah gila membuat video kayak gini...,” dia terdengar bergumam saat bangkit untuk kembali menghadap kamera. Dia terdiam sebentar seolah tahu aku sedang memandanginya tanpa berkedip.
Sabina menghembuskan nafas lelah, lalu mengusap seluruh wajahnya dengan lengan sweater merah mudanya. Sepertinya dia sudah sadar beberapa saat lalu dia terlihat begitu menggelikan. Tampaknya dia akan menghentikan perekaman karena kuperhatikan tangannya tampak meraih kamera. Dan benar, perekaman itu berakhir.
Sepertinya dia tidak benar-benar ‘niat’ untuk membuat sebuah video pengakuan untuk. Dia lebih banyak mengumpatku. Aku punya firasat, dia mungkin ingin menghapus video ini karena banyak adegan yang cukup ‘memalukan’ terutama suara tangis dan rengekannya. Dan entah mengapa dia tetap mengirimkannya.
Tapi, aku bahagia. Setelah hari-hari menyesakkan itu, tak pernah aku merasa sebahagia ini. Rasa bahagia yang menguras tenaga seperti baru saja menemukan oasis di padang pasir setelah perjalanan yang begitu panjang. Aku terkapar saat air baru saja mengaliri tenggorokanku dan rasanya ingin berbaring sejenak.
Lalu aku melihatnya lagi; masih dengan sweater rajutan merah muda yang lengannya kepanjangan. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku saat aku merebahkan diriku di atas tempat tidur. Dia tersenyum dengan wajah yang lebih berseri dari yang kulihat dalam rekaman.
“Aku mencintai kamu, Harrish...,” dia mengucapkannya lagi saat tanganku menyapukan rambut yang menutupi pipinya yang merona.
Aku ingin memeluk dan menciumnya tapi terlalu lelah. Aku hanya membalas senyuman itu sambil memejamkan mata dengan pelan.
Aku tahu dia tidak akan ke mana-mana lagi jadi tidak perlu khawatir besok dia akan menghilang. Aku akan mencarinya. Aku pasti akan mencarinya.
Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (3/3)
Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (3/3) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-roman-dewasa-getting-her_62.html
0 Response to "[Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 32 (3/3)"
Post a Comment