[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30)

[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30) - Hallo ѕаhаbаt Mari Membaca Novel, Pаdа Artikel уаng аndа bаса kali іnі dеngаn judul [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30), kаmі tеlаh mempersiapkan аrtіkеl іnі dеngаn bаіk untuk anda bаса dan аmbіl іnfоrmаѕі dіdаlаmnуа. mudаh-mudаhаn isi роѕtіngаn Artikel A Man With Roses, уаng kаmі bagikan іnі dapat аndа pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30)
link : [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30)

Baca juga


[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30)

It isn't over

Riuh tepuk tangan terdengar dari sini. Uki sudah selesai menyanyi. Tapi, rasanya begitu jengah.   Itu bukan pertama kali ia mendengar Uki memainkan gitar di depannya. Ya, ia sudah lama tahu kalau Uki memang berbakat. Memang dalam pelajaran, begonya minta ampun. Tapi saat memetik gitar, ia seperti seorang ahli. Ah, setiap orang memang punya bakat masing-masing.

Ketika saatnya untuk kembali, ia malah melihat Uki. Terlambat menghindar, Erris hanya kembali pasang tampang dingin di depannya –seperti biasa. Ia melangkah ke arah Uki yang menuju ke arahnya karena nggak punya pilihan. Mundur akan terlihat sangat menggelikan, tapi terus melangkah ia nggak yakin untuk membiarkan Uki berlalu. Ah, barangkali, Uki masih akan mencoba untuk memberitahunya bahwa ia nggak akan menyerah. Setidaknya sampai detik ini, ia belum berhenti mencari cara untuk mendekat.

“Kenapa kamu nggak suka lihat aku main gitar?” tanya Uki padanya.

Langkah Erris terhenti. “Kenapa aku harus nggak suka?” balas Erris –dingin.

“Kamu...” Uki menatapnya lekat-lekat. “Apa kamu benar-benar udah nyaman kayak gini?”

Erris terkekeh. “Kamu lihat sendiri” balasnya sambil kembali melangkah tapi tiba-tiba Uki menarik lengannya. Ia pun terkejut, tiba-tiba sudah menemukan Uki menatapnya dengan tetesan air mata di pipinya.

“Aku mohon berhenti, Erris...” katanya tertunduk tanpa melepaskan tangan Erris. “Aku tahu kamu juga nggak mau seperti ini...”

Erris diam. Ia tampak tenang. Tampak bisa menguasai keadaan dengan melepaskan genggaman Uki pada lengannya. “Kamu harus terima kenyataan...” kata dia, bergegas hendak pergi. Tapi, Uki masih memaksa. Tanpa membiarkannya pergi, Uki malah mendorong tubuhnya dan menghempaskan ke dinding. Ia menahan Erris yang mulai nggak tenang di sana.

“Aku nggak bisa” kata Uki padanya, menghujamkan kedua tangannya agar Erris tetap di sana. Lalu ia menatap Erris dengan wajahnya yang sudah kacau. “Kalau aku bisa aku udah pasti aku ngelepasin kamu. Tapi aku nggak bisa!”

Erris masih mencoba untuk lepas. Tapi, ia sendiri nggak berdaya mendorong Uki dengan kasar untuk menyingkirkannya. Ia pun memandang mata Uki yang sedih. Sudah sering, ia melihat Uki memohon padanya.

“Aku tahu, kamu ninggalin aku bukan karena kamu nggak sayang aku lagi. Kamu terpaksa, aku ngerti! Karena itu, kalau kamu memang ingin nggak ada seorang pun yang tahu soal kita juga nggak apa-apa. Aku bakalan diam selama yang kamu mau. Tapi, kalau aku ada di dekat kamu, kita bisa mulai dari awal lagi... tapi aku mohon, jangan perlakukan aku seperti musuh...” kata Uki, terdengar putus asa.

“Kamu ngomong apa, Ki?” Erris masih acuh.

Uki kembali menatapnya, lebih dekat. “Aku nggak percaya semua ini terjadi...” kata dia, masih menahan Erris dengan seluruh tenaganya. Masih penuh harap, ia memandangi Erris yang tampak berusaha untuk terlihat dingin. Tapi, ia sudah gagal. “Kalau kamu benar-benar nggak sayang aku lagi...sekarang bilang dan lihat aku... bilang kalau kamu udah nggak sayang aku lagi...”

Ya, Erris tertegun. Wajah dingin itu sudah hilang sama sekali. Ia malah terlihat khawatir, lebih-lebih ia bisa melihat kalau Rory sedang berjalan di antara pengunjung tampak sedang mencari sesuatu. Ia nggak ingin Rory melihat ini dan keadaan menjadi semakin rumit.

“Ayo bilang...” desak Uki terus menatapnya penuh harap.

Nggak tahan lagi, Erris pun berontak melepaskan tubuhnya dari Uki yang menahannya. Uki syok, tapi ia lebih terkejut lagi saat Erris ternyata malah menariknya pergi.

“Ris?” Uki mulai cemas saat mereka mulai melewati koridor lain untuk menghindari Rory. Ia hanya mengikuti Erris yang seolah tahu ke mana koridor itu akan menuntun mereka. Ya, mereka sudah sering ke sini bukan? Erris pasti tahu ke mana harus pergi. Tapi kenapa harus menghindar? Mereka bisa berpura-pura seperti yang selama ini mereka lakukan di depan Rory dan yang lain.

Cowok itu sama sekali nggak bicara. Ia melangkah tergesa-gesa sampai menemukan sebuah pintu yang tertutup rapat. Seakan tahu nggak akan ada seorang pun di sana, Erris membawanya masuk. Tempat itu agak remang. Uki sama sekali nggak tahu tempat itu tempat apa, namun ia bisa pastikan tiada seorang pun di sana. Erris langsung menutup pintunya begitu mereka masuk, sebelum tubuh Uki menghempas dinding di belakangnya dan Erris mendorongnya secara tiba-tiba dan... memberinya ciuman?

“Jangan keras kepala...” kata Erris mendesis di telinganya. “Aku udah bilang berkali-kali kalau kita selesai...”

Uki belum lepas dari ketegangan ciuman beberapa detik yang lalu. Terlepas dari itu ia mencoba memahaminya, kalau Erris nggak menginginkannya kenapa ia diseret ke sini? Uki mulai memperhatikan sekitarnya. Ada beberapa sofa dan LCD besar menempel di dinding. Ruangan itu nggak terlalu besar tapi ia belum sempat memastikannya karena Erris kembali mencengkram wajahnya dan menciumnya lagi. Kali ini lebih keras dan dalam.

Rasanya menyakitkan tapi Uki nggak menolak. Sudah lama ia rindukan ini. Seperti mengharap hujan di musim kemarau. Ia nggak membuang kesempatannya untuk bisa membalas dan Erris semakin menekan tubuhnya. Sakit, tapi ia berusaha bertahan walaupun terasa semakin mengerikan saat tangan Erris mulai meraih ke bawah roknya.

“Kamu mau aku kan?” bisik cowok itu di telinganya, mendesis.

“Erris?” Uki masih menatapnya nggak percaya. Apa yang Erris pikirkan? Di tempat seperti ini? Nggak mungkin.

Tapi, bukan hal seperti ini yang ia inginkan. Uki mendorongnya dengan kuat dan dalam detik yang sama ia merasa begitu terhina dengan perlakuan cowok itu barusan. Cowok yang bertingkah seolah yang ia mau hanya hal-hal yang entah mengapa mulai terkesan menjijikan bagi Uki. Erris yang dia sukai nggak memperlakukannya seperti ini.

Entah topeng apa yang Erris kenakan saat ini.

“Aku sayang kamu, tapi nggak begini juga...,” katanya.

“Terus aku harus gimana juga?” balas Erris dingin. “Aku udah bilang selesai, berarti kita selesai. Kalau kamu terus maksa aku kayak gini, aku bisa apa? Aku nggak bakalan nolak untuk senang-senang.”

Geram, Uki menamparnya! Sebuah pukulan keras yang cukup membuat Erris terkejut. Tapi, seperti dia yang biasanya, raut yang awalnya syok kembali dingin.

“Kalau kamu nggak mau seperti itu, ya udah. Lupain semuanya...,” kata Erris lagi untuk yang terakhir sebelum dia pergi. Meninggalkan Uki yang merosot jatuh sambil menangis.

***



Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30)

Sеkіаnlаh artikel [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30) kаlі іnі, mudаh-mudаhаn bіѕа mеmbеrі mаnfааt untuk anda ѕеmuа. bаіklаh, ѕаmраі jumра dі postingan artikel lаіnnуа.

Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-man-with-roses-ch-13_37.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 30)"

Post a Comment