[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32)

[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32) - Hallo ѕаhаbаt Mari Membaca Novel, Pаdа Artikel уаng аndа bаса kali іnі dеngаn judul [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32), kаmі tеlаh mempersiapkan аrtіkеl іnі dеngаn bаіk untuk anda bаса dan аmbіl іnfоrmаѕі dіdаlаmnуа. mudаh-mudаhаn isi роѕtіngаn Artikel A Man With Roses, уаng kаmі bagikan іnі dapat аndа pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32)
link : [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32)

Baca juga


[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32)

Momen yang tepat! Erris mendengus. Saat ia hanya bisa berdiri di depan pintu ruang kesehatan dan untungnya ia menahan langkahnya karena Rory sudah dulu ada di dalam. Ah, benar-benar membuat jantung terbakar!

Ia menjaga Uki sebagai bentuk pertanggungjawabannya walaupun ia dimarahi habis-habisan oleh guru dan dua jam lalu Mama-nya baru saja pergi memenuhi panggilan kepala sekolah. Sepertinya Rory nggak peduli dengan masa skorsing belum lagi larangan menyetir mobil ke sekolah yang   ia terima sebagai sanksi akibat perbuatan ugal-ugalannya. Kualat! Ia hampir menabrak Uki.

Uki masih belum sadar sejak ia diangkat dari lapangan sekolah ke sini. Rory belum beranjak dari sampingnya sejak tadi. Agak mengesalkan karena dia memandanginya begitu lama. Tingkat kesengsem Rory sudah semakin parah. Dan ia sepertinya nggak sadar, kalau ia hanya terlalu berharap. Sampai detik kemarin, yang Erris tahu Uki masih mencintainya. Mana mungkin ia akan terpesona pada Rory? Ya, tentu, Erris adalah lelaki pertamanya karena itu ia nggak bisa melepaskannya. Tapi, melihat pendekatan Rory yang mulai intens, lampu kuning sudah berganti menjadi lampu merah.

“Lo ngapain, Ror?” tegur Erris, menyetel suaranya setenang mungkin saat Rory mendongakan wajahnya ke Uki yang masih belum sadar.

Rory terjungkang. Terkejut, ia malah cengengesan. “Elo, Ris!” protesnya. “Lo yang ngapain!”

“Lo dipanggil sama kepsek tuh!” kata Erris padanya –ngarang.

“Ngapain lagi sih?!” Rory menggerutu. “Gue udah tanda tangan pernjanjian di atas materai ‘kan?!”

“Kenapa lo keselnya sama gue sih?” cetusnya.

Sambil mencak-mencak, Rory pun pergi dengan kesal.

Erris menghela nafas. Jantungnya benar-benar terbakar kalau Rory punya kesempatan mencium Uki –di depan matanya!

Untung dia langsung pergi, Erris pun tersenyum sambil mendekati Uki yang belum bergerak sama sekali. Matanya terpejam dengan damai padahal beberapa jam lalu pasti sangat menegangkan baginya. Erris sedikit merasa bersalah padanya. Lalu, ia memberinya sebuah kecupan di dahi yang ternyata malah bikin Uki terbangun!

Uki membuka matanya seketika!

“Erris...” panggilnya dengan suara lemah.

“Kamu udah nggak apa-apa?” tanya Erris, kembali menjadi lembut padanya.

Uki mencoba tersenyum, sambil menggeleng-geleng. “Aku nggak apa-apa...” jawabnya lega sampai rasanya ingin menangis. Akhirnya ia bisa melihat Erris kembali seperti semula. Lalu ia raih pundak Erris untuk memeluknya.

Syukurlah, Erris masih mau membalas pelukannya.

“Ehm!” seseorang menegur dan bikin Uki langsung melepaskan Erris.

Ah, Cuma Sasha! Uki lega, itu hanya sahabatnya yang pasti mau melihat keadaannya.

"Tahu nggak sih lihat kalian berdua gue kayak ngelihat pasangan gila yang ada di film layar lebar? Atau mungkin karena ini pertama kalinya gue lihat kalian berdua," Sasha menyipitkan matanya. Wajahnya kelihatan masih kesal karena terjebak di situasi di mana dia tiba-tiba jadi pengacau kesenangan sepasang kekasih yang lagi mabuk asmara, dan sialnya dia nggak menyangka Uki dan Erris berani pelukan begitu –di sekolah lagi.

Uki menghembuskan nafas lega, lalu mencoba tertawa. Dasar si Sasha reseh!

"Pokoknya gue nggak mau tau!" cetusnya lagi. "Kalau kalian berdua nggak bayar kompensasi ke gue, gue bakal buka mulut sama semua orang!"

"Hah?" Uki sewot.

"Gimana, Kak Erris?" tanya Sasha kayak  ngancam.

Uki hanya menatap Erris dengan perasaan nggak enak. Sasha kok bisa malu-maluin begitu sih? Tapi, itu memang gayanya. Ditraktir makan juga dia bisa ketawa lagi.

“Rory datang!” kata Sasha tiba-tiba dan bikin mereka kocar-kacir. “Cepetan sembunyi!”

Uki panik! Begitu juga dengan Erris yang kemudian membawanya ke ranjang sebelah. Supaya nggak ketahuan, ia menarik kerai biru yang mungkin bisa menyembunyikan mereka sementara waktu.

“Ssst...” desis Erris pada Uki yang terpaksa menahan nafasnya. Ia menutup mulutnya sendiri sambil menahan tawa. Bersembunyi seperti ini terasa sedikit menegangkan sekaligus menyenangkan.

“Lho, Uki mana?!” tanya Rory, kedengaran sebal. Ya iyalah, pasti dia disewotin sama Bu Kepsek yang merasa nggak memanggil Rory.

“Udah keluar” jawab Sasha acuh.

“Terus Erris?” tanya Rory lagi.

“Erris? Emang tadi dia ke sini?” balas Sasha lagi,

“Aaaah! Sialan tuh si Erris, gue dikerjain!” Rory makin menggerutu, lalu suaranya nggak terdengar lagi. Sepertinya dia langsung pergi.

Suara Sasha juga nggak terdengar lagi. Uki pun memberanikan diri mengintip dari balik kerai. Temannya itu juga sudah nggak ada.

“Udah aman” kata Uki sambil berbalik, bermaksud mengajak Erris turun dari sana. Tapi sepertinya Erris belum ingin. Kembali, ia meraih Uki ke dekatnya untuk sebuah ciuman dan pelukan rindu.

***

Seminggu kemudian...

"Siapa yang suruh lo duduk di sini?!" Rory jengkel, mendapati ada tas yang jelas bukan tas Uki di bangku sebelahnya. Baru selesai menjalani masa skorsing ia belum bertemu Uki sejak pagi dan tiba-tiba malah mendapati orang lain duduk di kursinya.

"U...Uki yang minta..." kata anak cowok itu gelagapan. Ia pikir Rory sudah agak 'jinak' sejak banyak bergaul dengan Uki yang humoris. Tapi, kenapa dia mendadak gila lagi?

Rory pun pergi keluar kelas, ia mulai menanyakan Uki pada semua orang yang ia temui di sepanjang koridor. Mereka semua menggeleng.  Tapi, Uki yang badannya kecil seolah bisa menghilang dan muncul begitu saja seperti Jinny.

"Tadi dia masuk perpus..." jawab seorang siswa lelaki gemetaran saat Rory menghampirinya.

"Perpus?" Rory mengernyit. "Ngapain dia ke perpus?"

"Bukannya Uki sering ke sana tiap pulang sekolah...kali aja dia di situ..." jawab anak itu takut memandang ke  wajahnya.

Rory nggak langsung percaya. Kalau Uki sering ke perpus, kenapa dia nggak pintar-pintar juga?, pikirnya lalu menarik kerah baju siswa itu. "Awas kalau lo asal jawab..." ancamnya. "Siap-siap aja gue gantung di pohon!" makinya lalu menunjuk dua orang lain yang ada di sana. "Kalian juga!"

Begitu Rory pergi, mereka lebih dari sekedar berharap sebaiknya Uki memang ada di sana. Untuk menyelamatkan mereka dari kekerasan yang mungkin akan terjadi.

Di perpustakaan, Uki menghembuskan nafas panjang di sudut favoritnya dengan sebuah buku paket Bahasa Inggris. Ia masih berharap Erris akan datang. Tapi, yang muncul malah Rory.

"Gue udah minta maaf, lo jangan cuekin gue gitu dong!" suara Rory terdengar jelas karena perpustakaan begitu hening.

Beberapa orang yang kebetulan ada di sekitar sana mulai merasa tertarik karena tahu itu suara Rory. Termasuk Erris yang baru datang dan terpaksa harus sembunyi untuk bisa mendengar pembicaraan mereka.

"Ssst!" desis Uki, menekankan suaranya yang kecil supaya nggak memancing orang-orang untuk datang ke sini. "Ini perpus bukan kelas, Rory!"

"Gue nggak sengaja, Ki! Mana mungkin gue kepikiran buat nabrak orang apalagi itu elo!" kata Rory terdengar memohon dengan panik. Sepertinya ia nggak peduli banyak orang yang mendengarnya termasuk guru pengawas perpustakaan yang pasti bakal mengusir mereka.

Tapi, benar Rory memohon?

“Udahlah, Rory, jangan ganggu aku lagi deh," kata Uki ketus sambil berdiri, bersiap untuk pergi karena ia nggak tahan menjadi sorotan orang-orang yang melihat

Tiba-tiba Rory menarik lengannya. “Uki, dengerin gue dulu!” paksanya.

Uki berontak dengan menarik paksa dirinya dari Rory. “Kamu ingat ini bukan pertama kalinya kamu bikin aku sial?! Dan masih untung aku masih hidup buat dengerin semua hinaan dan ejekan kamu soal aku!”

Lalu ia pergi dengan raut kesal membiarkan Rory tampak menyesal di sana.

Erris nggak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Uki berteriak pada Rory di depan beberapa orang yang kebetulan melihat mereka? Kenapa seolah-olah kesannya malah jadi seperti… Uki mengusir Rory karena sudah nggak membutuhkannya untuk mendekati Erris? apa Uki sejahat itu? tapi, itulah yang terlihat saat Uki pergi dengan raut kesal dan membiarkan Rory di sana sendirian.

Lebih dari itu, Rory baru saja dipermalukan! Dalam keadaan normal pasti ia akan marah dan membalas. Tapi, saat itu, dia diam saja. Seakan ia menerima semua perkataan Uki yang menyebutnya ‘masalah’.

***



Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32)

Sеkіаnlаh artikel [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32) kаlі іnі, mudаh-mudаhаn bіѕа mеmbеrі mаnfааt untuk anda ѕеmuа. bаіklаh, ѕаmраі jumра dі postingan artikel lаіnnуа.

Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-man-with-roses-ch-13_14.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 13 (Hal. 32)"

Post a Comment