Judul : [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 28 (1/3)
link : [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 28 (1/3)
[Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 28 (1/3)
One Man Down
Aku pernah punya sahabat laki-laki. Setidaknya dulu begitulah aku menganggap Bastian. Aku mengenalnya karena sering bertemu di berbagai pameran dan pasar wisata sampai kemudian menjalin kerja sama bisnis. Mengapa aku menyebutnya teman? Karena walaupun orang ini sedikit kekanakan, aku sering menceritakan masalahku termasuk rumah tanggaku dengan Rastanti. Tapi, sedikit pun aku tak pernah menyinggung masa laluku bersama Sabina yang tak pernah bisa kuingat.
Bastian orang yang menyenangkan untuk diajak berpesta dan melakukan hal-hal gila seperti bersorak di klab malam dan menggandeng beberapa gadis sekali pun dalam semalam. Dan menurutku, dia menganggapku seperti seorang kakak karena juga menceritakan banyak hal tentang keinginan termasuk saat dia akhirnya mengaku sudah jatuh cinta dengan seorang perempuan misterius. Kebetulan perempuan misterius itu bekerja di The Emperor yang Bastian tahu betul salah satu perusahaan keluargaku yang saat itu masih dikelola oleh kakak iparku.
Dari Bastian-lah aku tahu bahwa Sabina bekerja untuk orang itu. Aku sempat terkejut dan tidak menyangka bahwa Sabina berani bermain api dengan masuk ke The Emperor di saat aku sedang merencanakan untuk mengambilnya kembali. Aku kesal –entah karena Sabina bekerja dengan Sendra atau batinku tidak bisa menerima dia dekat dengan lelaki lain. Aku pun memprovokasi Bastian. Aku tidak mungkin mengatakan padanya bahwa akulah laki-laki yang pernah menikahinya dan mulai merasa ada yang salah dengan rumah tanggaku.
Seingatku, sejak aku memberitahunya, Bastian tampak kecewa dan mulai sering terlihat murung. Lalu tak pernah kelihatan lagi karena dia kembali menggandeng beberapa gadis yang dia temukan di diskotik. Saat itulah aku merasa bahwa dia tidak pantas untuk Sabina meski pun aku sadar bahwa aku juga telah melakukan hal yang jahat padanya. Namun, ada satu hal yang membuatku terus memikirkan Sabina.
Bastian memiliki beberapa handphone. Seingatku sekitar tiga atau empat. Saat mengaku jatuh cinta, katanya dia menyediakan satu handphone khusus untuk pacarnya. Tapi, setelah dia terlihat kesal merasa dibohongi oleh Sabina, dia selalu mematikan handphone itu. Satu kali ketika kami menghabiskan malam di sebuah tempat bilyar, aku menemukan Bastian menyalakannya dan kami langsung mendengar pesan masuk bertubi-tubi.
Aku memperhatikan raut Bastian yang selalu riang itu berubah menjadi kecut. Kemudian dia menyimpan kembali benda itu di sakunya.
“Pacar?” aku menggodanya sambil terkekeh. Sebetulnya aku hanya ingin tahu, apa Sabina yang mengirim pesan sebanyak itu.
Dia menatapku cengengesan. “Mantan pacar,” jawab dia singkat sambil kembali fokus ke permainan kami. “Pesannya banyak banget. Nggak mungkin gue baca semua. Bikin sakit mata,” gerutunya.
“Kenapa lo main tinggalin aja tanpa bilang sesuatu?” tanyaku.
Bastian tertawa satu kali. “Buat apa? Cewek itu... gue ngejarnya setengah mati, tapi kayaknya nggak worth it...,” jelasnya.
“Maksudnya?”
“Ditambah dia udah pernah menikah dan nggak jujur sama gue. Pantesan dia menolak gue berkali-kali karena kelihatan trauma sama laki-laki,” jelasnya. “Terlalu gila kerja juga sampai balas pesan gue apalagi nelpon gue hampir nggak pernah dan....”
Aku mengerutkan dahi karena aku paham melihat ekspresi Bastian saat itu, ada sesuatu yang tidak dia dapatkan dari Sabina sehingga dia akhirnya menyerah. “Dan?” aku bertanya.
Dia menatapku sambil menghembuskan nafas lelah dan menggeleng-geleng. “Lo tahu maksud gue, Bro,” jawab dia sambil menggosok ujung stiknya.
“Nggak bisa lo ajak tidur bareng?” tebakku.
Bastian terlihat nyaris tanpa jawaban. Dia menatapku datar seakan membenarkan tebakanku.
“Kenapa bisa?” aku terus bertanya, karena jelas itu sangat membuatku penasaran. “Bukannya dia pernah nyamperin lo ke Bali?”
“Dia ngajakin temannya. Kalau gue tahu alasannya pasti nggak akan sesulit itu,” jawab dia. “Menurut lo apa pacaran jaman sekarang itu bisa bersih dari hal-hal kayak gitu? Atau dia menganggap gue bocah yang kurang pengalaman dalam percintaan? Gue jadi penasaran sama mantan suaminya, Bro. Apa dia lebih dewasa dari gue atau lebih tajir daripada gue? Kayaknya nggak mungkin.”
“Terus kenapa dia bisa mengirim pesan sebanyak itu?”
“Gue nggak tahu. Yang jelas gue nggak baca semuanya. Buat apa?” jelas Bastian. “Biar dia rasa, dicuekin itu gimana....”
“Lo memang bocah, Bas,” gumamku dan untung dia tidak mendengarnya.
“By the way, dia sekretaris kakak ipar lo ‘kan? Hidup Sabina mewah untuk ukuran cewek kerja kantoran biasa. Menurut lo apa dia nggak ‘dipelihara’ sama bosnya? Bukannya lo pernah bilang kakak ipar lo itu punya banyak koleksi?” tanya Bastian dan tiba-tiba itu membuatku terusik. “Itu juga salah satu penyebab gue mulai meragukan dia, Bro....”
Aku diam. Lalu mulai merasa tidak tenang. Membayangkan Sabina dan Sendra, membuatku marah. Saat itu aku hampir sependapat dengan Bastian terlebih Ibuku tidak pernah bicara hal yang baik tentang Sabina. Mengetahui dia bekerja untuk Sendra, aku mencoba meyakini bahwa keputusanku untuk menceraikannya sudah tepat. Aku mulai mengumpulkan informasi tentang Sabina dan Sendra hanya untuk memastikan Sabina tidak menjadi satu di antara wanita yang pernah menjadi selirnya hanya karena aku tak tahan memikirkannya. Dan firasat Bastian kemudian sama sekali tidak terbukti karena aku berhasil mengungkap fakta tentang kehadiran Jessica sebagai pelacur Sendra yang sebenarnya.
Berkali-kali aku ingin menunjukan diri di hadapan Sabina karena menurutku dia sudah berada di tempat yang salah. Aku ingin menghukumnya karena terlibat dengan Sendra. Tapi, di saat yang sama, saat aku memikirkannya terlalu dalam, kilasan-kilasan itu mulai sering hadir dalam mimpiku. Perlahan-lahan semua yang pernah hilang kembali padaku. Ketika Sabina akhirnya berdiri di hadapanku, aku tahu dia bukan lagi gadis yang sama yang pernah kunikahi tujuh tahun yang lalu.
Aku mulai menggali cinta yang pernah terkubur dalam di hatinya setelah kepergianku dan sampai detik ini pun aku masih belum bisa menemukannya. Aku tak tahu di mana Sabina menguburkannya.
***
Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 28 (1/3)
Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 28 (1/3) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-roman-dewasa-getting-her_31.html
0 Response to "[Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 28 (1/3)"
Post a Comment