[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24)

[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24) - Hallo ѕаhаbаt Mari Membaca Novel, Pаdа Artikel уаng аndа bаса kali іnі dеngаn judul [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24), kаmі tеlаh mempersiapkan аrtіkеl іnі dеngаn bаіk untuk anda bаса dan аmbіl іnfоrmаѕі dіdаlаmnуа. mudаh-mudаhаn isi роѕtіngаn Artikel What They Say About You, уаng kаmі bagikan іnі dapat аndа pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24)
link : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24)

Baca juga


[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24)

Aku mengendarai Cadillac-ku menuju rumah Reggina dan Beatrize untuk acara makan malam sebelum berangkat ke Indonesia.
 “Kamu sama sekali belum bilang Magisa?” Beatrize bertanya. Ia sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk kami selagi Reggina belum pulang.
Surprise,” jawabku sambil menghampiri untuk melihat apa yang bisa kubantu untuk makan malam spesial kami.
Beatrize tersenyum, sementara tangannya sibuk mencincang daging. Dia ingin membuat pie daging dan sup kacang polong. Aku bisa melihat semua bahan sudah disiapkan di atas meja oleh Winnie, pengurus rumah tangga.
“Kamu mau Pavlova?” tanya Beatrize padaku.
“Ya, it would be nice. Satu bulan di Jakarta aku sering makan mie cup instan, lontong sayur dan krupuk,” jawabku sambil tertawa.
“Oh ya?” Beatrize ikut tertawa.
“Magisa sudah bosan dengan menu barat,” jelasku, “Semua itu nggak ada di sini,”
“Tapi, kita kehabisan whipped cream,” katanya. “Can you get it from the store?”
Aku mengangguk dan segera mencari kunci mobil. Sudah lama aku tidak disuruh belanja ke toko yang berada cukup jauh dari rumah. Dalam perjalanan aku menyempatkan diri menghubungi Magisa.
Apa dia sudah selesai dengan maketnya?
“Kamu menelpon di saat yang tepat!” kata Magisa padaku, bahkan di saat aku belum menyapa sama sekali; kedengarannya buru-buru. “Aku mau ketemu klien dan presentasi. Nanti aku telepon lagi. Daag! I miss you!”
Aku tertegun lalu tertawa setelah panggilan itu langsung terputus kurang dari satu menit saja. Aku lupa, hari ini adalah hari ia mempresentasikan design yang dibuatnya ke klien penting yang selalu ia tunggu. Pasti dia berdebar, pikirku sambil membelokan mobil memasuki parkiran sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota Sydney. Aku tidak tahu tempat lain yang bisa dituju untuk belanja, jadi melihat supermarket, aku pastikan aku akan berputar-putar untuk mencari whipped cream.
Aku memasukan lima kaleng whipped cream ke dalam keranjang, kemudian langsung menuju ke kasir yang berada di dekat pintu keluar. Karena ada pelanggan lain, aku harus mengantri.
Sekilas aku memperhatikan kernyitan di dahi sekuriti yang tampak menunggu pelanggan di depanku merogoh saku jaketnya; mungkin mencari uang receh untuk sekaleng minuman yang dia ambil dari rak.
“Hurry up, please...”kata lelaki kulit hitam itu, tapi si dia masih saja merogoh saku-sakunya seakan kehilangan sesuatu; mungkin dompetnya. Tapi, bisa jadi juga dia tidak punya sepersen pun di dalam kantongnya. Karena dia kelihatan seperti berandalan. Berandalan biasanya selalu memaksa penjaga swalayan untuk memberinya minuman gratis. Aku khawatir bila tiba-tiba orang ini menodongkan pistol dan meminta kasir membuka kotak uangnya.
Aku melihat punggung yang kurus ditutupi jaket hitam bertudung. Aku tidak bisa memastikan apakah dia laki-laki atau perempuan dari belakang. Tapi, memperhatikan blue jeans robek membalut sepasang kaki yang amat kurus itu, posturnya lebih mirip seperti perempuan. Ya, dia ternyata berambut panjang, dan helaian rambut hitam legam itu terurai keluar dari tudung kepalanya menutupi wajahnya. Aku pastikan dia adalah seorang perempuan.
Perempuan yang panik; ia tidak terdengar bicara sepatah kata pun pada kasirnya. Dan tampaknya dia memang tidak punya uang, apalagi senjata.
Aku berniat memotong antrian dan melewati gadis itu karena tidak ingin menunggu lebih lama dan membayarkan sekaleng minuman yang harganya tidak seberapa. Tapi, tiba-tiba langkahku terhenti karena aku mendengarnya menggumam dengan kesal; tidak jelas apa yang dia katakan.
“Brengsek!” satu kata itu membuatku tertegun dan seketika menoleh ke belakang, tempat gadis kurus itu berdiri dan mengeluh karena ia tak bisa menemukan uang receh di kantongnya sendiri. Aku tidak menyangka bahwa ternyata dia juga orang Indonesia dan aku lebih kaget lagi saat aku sadar bahwa aku juga mengenali wajahnya.
Gadis itu masih meggerutu sendiri selagi antrian di belakang bertambah panjang, sebelum dia melihat ke arahku.
“Saira?” tegurku setelah kupastikan, seraut wajah tirus yang kini menatapku itu adalah dia.
Dia terlihat lebih terkejut lagi. Hal yang kudengar adalah bunyi kaleng minuman yang menghempas lantai dan berguling entah ke mana; Saira menjatuhkannya tanpa dia sadari.
Aku pikir ini mimpi lagi; di mana kadang-kadang aku bisa menemukannya di mana-mana. Tapi, dalam mimpiku aku tidak menemukannya di tempat seperti ini; aku tidak pernah bermimpi bahwa ternyata Saira juga di Australia.
Aku pikir setelahnya aku akan terbangun di kamarku dalam keadaan nafas tersengal di atas tempat tidur begitu dia lenyap tanpa aba-aba. Tapi, dia tidak menghilang lagi, bahkan di saat aku mendekat selangkah untuk memastikan bahwa yang kulihat benar-benar Saira Gayatri.



Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24)

Sеkіаnlаh artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24) kаlі іnі, mudаh-mudаhаn bіѕа mеmbеrі mаnfааt untuk anda ѕеmuа. bаіklаh, ѕаmраі jumра dі postingan artikel lаіnnуа.

Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-what-they-say-about_95.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 9 (Hal.24)"

Post a Comment