Judul : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 14 (Hal.44)
link : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 14 (Hal.44)
[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 14 (Hal.44)
Ch. 14 - Sunny
Sydney International Elementary School, sebuah kebetulan kalau seandainya perawat rumah sakit tidak salah menulis namaku. Tapi, sekolah dasar bertaraf internasional itu memang dikelola di bawah yayasan yang didirikan oleh perusahaan ayahku. Tujuan Reggina memintaku mengajar di sini adalah agar aku bisa menemukan orang-orang yang tepat untuk membuat sebuah program bagi anak-anak miskin. Hanya itu yang terpikirkan oleh orang yang tidak akan bisa memiliki anak seperti diriku. Awalnya aku berharap aku bisa mengerjakan hal ini dengan Magisa, tapi melihat sikapnya aku yakin dia tidak bersedia merepotkan dirinya mengurus sesuatu yang tidak ada hubungan dengan dirinya. Melihat caranya memarahi Lucky beberapa hari lalu, membuatku sangat yakin bahwa kami tidak sejalan lagi untuk urusan kegiatan amal ini.
Magisa lebih mementingkan dirinya saat ini. Aku teringat ketika pagi-pagi sekali pintu kamar terbuka dan aku melihatnya duduk di sisi tempat tidur masih mengenakan gaun tidur; tampak merenungkan sesuatu. Ketika dia menyadari bahwa aku berdiri di depan pintu kamar dia langsung menutup pintu; dan itu pun dengan cara membantingnya. Biasanya dia selalu mengabaikanku dengan diam dan murung seorang diri, namun sekarang dia benar-benar menunjukan bahwa dia marah padaku lewat tatapannya.
Tapi, bagaimana pun, bukannya aku tidak mempedulikannya. Aku selalu berusaha untuk membuatnya bangkit, tapi kali ini barangkali aku harus menunggunya selesai dengan dirinya sendiri. Aku yakin saat Magisa merasa bahwa dia membutuhkanku; toh karena selama ini kami hanya berdua, dia pasti akan kembali seperti semula. Semoga saja.
“Sebuah kehormatan, Mr. Adams,” seorang pria berusia sekitar 50 tahunan menyambutku ketika pertama kali aku membuka pintu ruang kepala sekolah. Dari yang kuketahui dari adikku, pria yang kelihatannya juga setengah Indonesia itu bernama Mr. Ulrich. Dia berdiri dari kursinya untuk meghampiriku dan mengulurkan tangannya.
“Panggil saya Sidney saja, Mr. Ulrich,” kataku sambil memberikan senyum terbaikku walaupun sepenuhnya pikiranku masih berada di rumah. Aku sedikit khawatir, kesendirian Magisa saat ini bisa saja membuatnya berpikiran yang aneh-aneh; bunuh diri misalnya.
Tapi, memperhatikan kelakuannya akhir-akhir ini, justru yang dia inginkan untuk mati saat ini bukan dirinya sendiri, melainkan Saira.
“Saya cukup terkejut kamu memutuskan untuk bergabung di sekolah ini,...” kata dia, terlihat segan namun itu membuatku merasa tidak enak.
Aku tidak datang sebagai pemilik yayasan.
Yayasan itu masih milik ayahku walau dia telah tiada dan pengelolaannya pun diserahkan kepada teman-teman yang dia percaya. Bisa dibilang bahwa yayasan ini adalah sesuatu yang jauh berbeda dari perusahaan. Memang pendidikan di sini bertaraf internasional dan rata-rata muridnya adalah anak-anak diplomat dan pejabat.
“Seperti yang sudah anda ketahui yayasan selama mengumpulkan dana dari wali murid untuk CSR bagi penduduk miskin di sekitar sekolah. Itu sudah berjalan sejak sekolah ini berdiri,” kata Mr. Ulrich.
“Menurut saya itu kurang efektif,” kataku, dan seketika sadar; tugasku bukan untuk menggurui seorang kepala sekolah melainkan mencari pekerjaan. “Tapi, mungkin itu hanya rencana saya pribadi dan nggak ada hubungannya dengan sekolah.”
“Saya mengerti, Sidney. Tapi, tetap kami akan membantu untuk mewudujkan rencana-rencana itu,” kata dia, sambil meraih gagang telepon lalu berbicara dengan seseorang di sana. “Bisa panggilkan Ibu Matilda? ... ya, baik, saya tunggu.”
Mr. Ulrich kembali menatapku setelah dia berbicara di telepon. Aku menunggu pekerjaan seperti apa yang akan kujalani setelah ini. Terus terang, aku sedikit berdebar karena ini pertama kalinya aku keluar dari ‘kotak’ tempatku bernaung selama ini.
“Ibu Matilda akan mengantarkan kamu berkeliling dan mengenalkan kamu kepada guru-guru lain,” kata Mr. Ulrich lalu kami mulai mengobrol hal lain di luar urusan sekolah sampai wanita yang dia maksud datang.
Matilda, seorang wanita akhir 40-an, berdarah Maluku. Kulitnya sawo matang dengan rambut ikal hitam legam. Di hidungnya yang mancung bertengger kaca mata bingkai hitam berbentuk bulat. Dia mengenakan sweater biru tua dan rok lipat melewati lutut yang disambung dengan stocking hitam; yang mana menurut dugaanku dia pasti orang yang serius dan juga kutu buku. Dia melangkah dengan pasti saat menghampiriku.
“Halo, Mr. Adams, senang bertemu dengan anda,” dia menyapaku sambil mengulurkan tangannya.
Aku meraih tangannya, “Terima kasih. Tapi, panggil saya Sidney saja,” balasku.
“Baik, Sidney. Kita punya sedikit petualangan,” kata dia dengan tepat sambil tetap memeluk buku yang dia bawa. Sepertinya dia memang sangat tepat waktu.
Aku pun mengikutinya mengunjungi beberapa tempat yang harus kuingat dengan baik; kelas-kelas yang jumlahnya lumayan banyak dari kelas satu sampai kelas enam. Satu tingkatan bisa terdiri dari beberapa kelas tergantung dari banyak siswa. Untuk kelas satu sampai kelas tiga, satu kelas maksimal berisi 10 orang dan itu memungkinkan bagi guru untuk memantau anak-anak dengan lebih detil. Anak-anak usia 5-7 tahun biasanya sedikit sulit diatur dan entah mengapa aku mendapat tugas di kelas satu.
Setelah berkeliling ke seluruh bagian sekolah, Matilda menjadikan kelas tempatku mengajar sebagai kunjungan terakhir kami. Di dalamnya sudah ada guru lain yang tengah mengajar; seorang wanita usia sekitar 30 tahun. Begitu melihat kami, ia langsung menghampiri.
“Sidney, ini Ibu Anna,” Matilda mengenalkan perempuan berambut pendek dan berkaca mata itu padaku. “Ibu Anna, ini Mr. Adams.”
Wanita itu mengulurkan tangannya, “Halo,” sapanya. “Saya pikir saya harus mengenalkan anda pada semua murid kita.”
“Tentu,” jawabku mengambil beberapa langkah maju, mengiringi Anna yang langsung mencoba untuk mendapatkan perhatian bocah-bocah itu.
“Hey, class, I’d like to introduce your new teacher,” kata dia dan anak-anak yang sedari tadi sudah memperhatikan kami sekarang terlihat menyimak apa yang dikatakan Anna. “Mr. Sidney Adams. Let’s come and say ‘hello’”
“Hello, Mr. Adams!”sapa mereka berbarengan dengan alur yang kedengaran rapi.
Kuperhatikan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak berdarah campuran. Ada yang berambut pirang, bermata biru hingga bahkan ada juga yang berkulit hitam. Tidak seberapa yang perawakannya seperti orang Indonesia. Aku sempat menghitung berapa jumlah mereka dan kudapati jumlahnya tidak sesuai dengan yang dijelaskan Ibu Matilda padaku dalam perjalanan ke sini; seharusnya ada sepuluh orang, tapi menurut pengamatanku hanya ada sembilan orang murid.
“Hello. I’m Sidney. You don’t have to call me Mr. Adams,” kataku menyapa mereka. Entah mengapa aku sedikit gemetaran. Kelihatannya mereka tidak terlalu antusias dengan perkenalanku. Aku tidak terlalu pandai memulai; maklum saja, selama ini aku hanya disibukan dengan menandatangani banyak berkas. Aku tidak pernah membujuk atau berbicara dengan persuasif kepada orang lain. Aku meyakini mereka pasti berpikir bahwa aku guru baru yang akan sangat membosankan.Tapi, bel istirahat memperpendek waktu perkenalan di mana seharusnya aku menyampaikan hal-hal yang membuat mereka begitu ‘excited’ dengan guru pria. Tapi, sebagian besar dari siswa di dalam kelas itu adalah laki-laki. Pantas mereka menyukai Anna yang kelihatannya begitu pandai mengambil hati mereka.
***
Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 14 (Hal.44)
Sеkіаnlаh artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 14 (Hal.44) kаlі іnі, mudаh-mudаhаn bіѕа mеmbеrі mаnfааt untuk anda ѕеmuа. bаіklаh, ѕаmраі jumра dі postingan artikel lаіnnуа.
Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 14 (Hal.44) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-what-they-say-about_90.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 14 (Hal.44)"
Post a Comment