[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45)

[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45) - Hallo ѕаhаbаt Mari Membaca Novel, Pаdа Artikel уаng аndа bаса kali іnі dеngаn judul [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45), kаmі tеlаh mempersiapkan аrtіkеl іnі dеngаn bаіk untuk anda bаса dan аmbіl іnfоrmаѕі dіdаlаmnуа. mudаh-mudаhаn isi роѕtіngаn Artikel What They Say About You, уаng kаmі bagikan іnі dapat аndа pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45)
link : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45)

Baca juga


[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45)



“Semua orang mengalaminya, Sid,” ujar Anna yang menemukanku sedikit gugup saat di kelas tadi. Dia sangat ramah padaku dan beruntung aku satu ruangan dengannya. “Dan pastinya kamu dengan pengalaman yang masih terlalu sedikit pasti bingung dengan mereka.”
“Yah, ini sesuatu yang baru,” jawabku.
Anna kemudian memberikanku sebuah map yang sepertinya penting, “Itu adalah data siswa di kelas IA,” dia menjelaskan. “Kamu bisa mempelajarinya dan sedikitnya pasti bisa menilai seperti apa sifat mereka dari latar belakang keluarga. Kebanyakan dari anak-anak itu sedikit paranoid dengan orang yang baru dikenal.”
“Oh ya?” aku membuka sebuah map bertuliskan sebuah nama Adeline Maple Marlow, putri seorang duta besar Amerika untuk Indonesia, kemudian fokus kepada Anna yang akan memberikanku informasi penting.
“Ya, sekolah dijaga sangat ketat. Kamu tahu sendiri negara ini sangat rawan. Teroris dan pengeboman terhadap segala sesuatu yang disebut ‘asing’. Nyawa anak-anak ini sangat terancam,” jelas Anna. “Anak-anak tidak bisa dijemput di depan gerbang sekolah. Dan bagi supir yang menjemput harus dikonfirmasi lebih dulu ke bagian security untuk bisa masuk. Guru juga tidak boleh membawa sembarang orang ke lingkungan sekolah, kalau ketahuan bisa jadi masalah besar. Pokoknya setiap orang yang masuk ke lingkungan sekolah ini harus terverifikasi.”
“Aku mengerti,” jawabku untuk selanjutnya membuka map kedua yang bertuliskan ‘Sunny Wiranata’
“Oh ya satu lagi, di kelas 1.1 ada seorang siswa yang mungkin akan sedikit membuat kamu kewalahan,” kata Anna, matanya juga tertuju pada map biru di tanganku. “Sunny Wiranata.”
“Apa dia nakal? Pembuat masalah?” tanyaku.
Anna tersenyum sambil menggeleng saat tiba-tiba seseorang membuka pintu tanpa permisi. Seorang anak perempuan kecil dengan rambut pirang yang dikepang dua. Dia berdiri di pintu dengan nafas terkenal, “Miss Anna, Sunny fights with Francis!” serunya.
Anna segera bergerak menghampiri gadis kecil itu. “What’s going on?” tanya Anna lagi padanya.
“I don’t know. They said that Francis took his Bunny and then throw it away. Sunny gets mad and then punch him!” jelas gadis itu sedikit ketakutan.
Anna pun berlari ke luar kantor dan aku mengikuti bersama si gadis kecil yang panik. Kami menuju ke halaman di mana terlihat seorang anak lelaki dengan boneka kelinci lusuh di tangannya menunggangi seorang anak lelaki lain dan sementara tangannya terus memukul.
“Sunny, berhenti!” seru Anna yang segera mengangkat bocah itu dari tubuh temannya selagi anak-anak lain menonton dan bersorak.
Hal pertama yang aku lihat dari bocah lelaki berusia enam tahun itu adalah ... tatapannya yang dingin; terlalu mengerikan untuk anak seusia itu. Dia tidak mempunyai ekspresi ketika Anna bertanya padanya, “Kenapa kamu memukul?”
Bocah itu tidak menjawab. Dia hanya menatap Anna dan itu membuatku cukup prihatin. Namun, ketika anak itu menemukanku berdiri tidak jauh dari Anna, dia memandang ke arahku, aku merasa ada sesuatu yang aneh dengannya. Anak-anak tetaplah anak-anak. Hanya saja dia terkesan menyembunyikan sesuatu -barangkali sesuatu yang jahat- di balik tatapannya itu. Dan yang membuatku terpaku memandang ke arahnya adalah... dia juga memandang ke arahku sangat lama.
Rasanya saat perkenalan di kelas tadi aku tidak melihatnya. Barangkali dia adalah murid ke sepuluh itu.
***
“Nggak banyak yang bisa kita ketahui soal keluarganya. Tapi, Sunny sepertinya yatim piatu,” jelas Anna dalam perjalanan kami kembali ke kantor.
“Apa kamu nggak pernah menanyainya soal apa yang terjadi di rumah?” tanyaku lagi. Anak yang bernama Sunny itu memang membuatku sedikit penasaran.
“Sejak masuk ke sini dua bulan yang lalu, aku belum pernah mendengar dia bicara. Dia tidak bergaul dengan siapa-siapa. Ada indikasi kalau Sunny memang tidak bisa Bahasa Inggris seperti kebanyakan teman-temannya, tapi dia juga tidak menjawab kalau ditanyai Bahasa Indonesia. Kedatangan Sunny ke sini sangat misterius.”
Misteri dan misterius adalah kata-kata yang sangat akrab di telingaku. Entah mengapa aku merasa, semisterius apa pun sesuatu aku pasti bisa mengungkapnya; walaupun waktulah yang lebih banyak berperan menjawab semuanya. Seperti Saira; misterinya sudah terpecahkan.
“Apa kerabatnya pernah datang ke sini?”
Anna menggeleng pelan. “Pendaftaran Sunny juga diurus oleh orang misterius,” kata Anna. “Kalau menurutku... barangkali Sunny adalah aib yang harus ditutupi oleh sebuah keluarga yang kaya raya sehingga pihak sekolah tidak boleh tahu banyak tentang asal usulnya.”
“Lalu bagaimana dengan isian di data siswa? Apa tidak bisa ditelusuri dari sana?”
Anna juga menggeleng dengan murung. “Kalaupun asumsiku benar, kita tidak boleh terlalu tahu privasi keluarga murid...,” katanya lagi, tapi terdengar sedikit mengeluh. “Tidak banyak yang ada di data siswa milik Sunny, hanya nama ibunya saja, tanpa nama ayah.”
Penjelasan Anna membuatku semakin penasaran dengan anak berambut lurus dan hitam legam itu. Ada sesuatu tentang anak itu yang membuatku tak puas dengan apa yang baru saja kudengar. Aku jadi ingin segera membuka data siswa yang belum sempat kubaca tadi.
“Jangan terlalu memikirkannya, Sid,” tegur Anna saat map Sunny sudah berada di tanganku dan aku bersiap membukanya.
Aku tersenyum dan menemukan dia sudah bersama guru wanita lain yang kalau tidak salah sudah dikenalkan Matilda padaku. Namanya Retha dan dia mengajar di kelas empat.
“Oh, ini pasti soal Sunny,” Retha melirikku lalu Anna di sampingnya.
“Menurutku ekspresi dingin yang dia perlihatkan itu sangat nggak lazim untuk anak berusia enam tahun,” kataku.
“Dia hanya begitu kalau ada yang menjahatinya,” jelas Retha. “Memang sih dia nggak pernah bicara sama siapa pun, tapi kalau dia sedang sendirian bersama boneka kelincinya, dia itu tetap saja anak kesepian yang butuh diperhatikan. Sayangnya, dia nggak menunjukan itu di depan orang lain....”
“Oh ya?”
“Retha tahu banyak hal tentang Sunny karena dulu Retha sempat mengajar di kelas satu,” jelas Anna tentang mengapa sepertinya Retha lebih memahani Sunny -Sunny yang misterius dan mengingatkanku pada seseorang.
“Tapi, ini hari pertama Mr. Adams.” kata Retha, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan lalu menatap Anna di sampingnya. “Apa dia sudah mengerti semua peraturannya?
Anna mengangguk. “Aku rasa hal-hal yang terlupakan, akan teringat sendiri begitu dilakukan,” jawabnya, lalu menoleh padaku. “Kamu masih punya banyak waktu untuk membaca data siswa itu nanti,” ujarnya. “Sebentar lagi bel pulang berbunyi. Kita semua harus mengawasi penjemputan siswa di halaman depan.”
Aku memandangi map itu lagi. Aku belum sempat membacanya namun aku harus mengikuti mereka.
  • Anna mulai bersiap-siap sementara aku memasukan semua data siswa pemberian Anna  ke dalam laci. Lalu kami keluar bersama-sama dan disambut oleh guru-guru lain yang juga ingin pergi ke halaman depan. Untungnya juga ada guru laki-laki lain yang bergabung karena berada di antara banyak wanita membuatku kurang nyaman.

Aku membayangkan istriku yang tengah dilanda kesedihan panjang di rumah sendirian. Entah mengapa aku ingin cepat pulang dan menemuinya walaupun nanti ketika dia melihatku, dia akan menatapiku tajam atau tak mau bicara denganku lagi.
***



Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45)

Sеkіаnlаh artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45) kаlі іnі, mudаh-mudаhаn bіѕа mеmbеrі mаnfааt untuk anda ѕеmuа. bаіklаh, ѕаmраі jumра dі postingan artikel lаіnnуа.

Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-what-they-say-about_50.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 15 (Hal.45)"

Post a Comment