Judul : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 10 (Hal.26)
link : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 10 (Hal.26)
[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 10 (Hal.26)
Saira hanya memandangi kaleng soda itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Bukankah minuman itu yang dia inginkan di Walmart? Dia masih menatapku dengan wajah muram dan merengut. Sejak aku mengajaknya untuk singgah di restoran terdekat dan duduk untuk sekedar bicara; dia belum mengucapkan sesuatu.
“Ngapain kamu di Australia?” tanyaku menatapnya, memperhatiiikaaannn raut wajahnya. “Sejak kapan?”
“Sejak enam tahun yang lalu. Memangnya kenapa?” balas dia, agak ketus tanpa merubah raut wajah masam itu. Dia tampak tak ingin berlama-lama denganku karena dia sendiri tampak gelisah; sambil menggoyang-goyangkan lututnya, menatap ke sana ke mari kecuali ke arahku dan dia beberapa kali menengadah seperti sedang menanggul air mata dengan cekungan yang dalam pada kedua matanya. Agaknya dia benar-benar terpaksa menghadapiku.
“Enam tahun?” balasku, tertawa satu kali. Aku belum mau mempercayainya. “Apa yang kamu lakukan selama enam tahun di Australia?”
“Apa peduli kamu?” dia masih menjawabku ketus. Sementara aku mulai berpikiran macam-macam.
“Sudah ketemu ladang bunga mataharinya?” tanyaku kemudian, berusaha untuk tetap ramah. Bagaimana pun enam tahun jugalah kami tidak bertemu. Aku mencarinya ke sana ke mari, tapi tak pernah bisa menemukan keberadaannya.
Tiba-tiba dia berdiri; benar-benar kelihatan marah. Sepertinya dari semua pertanyaanku yang tidak dia sukai, inilah yang membuatnya habis kesabaran.
Sehingga aku ikut berdiri, untuk menahannya. “Oke,” ujarku. “Maaf! Aku sama sekali nggak berniat menginterogasi, oke?”
Saira tampak menghela nafas sebelum duduk lagi. Dia berusaha menenangkan diri. Sepertinya dia mudah sekali terpancing emosi. Beberapa menit kemudian dalam diam pelayan datang membawakan makanan pesanan kami.
Aku melirik jam tanganku, hampir jam setengah tujuh. Lima kaleng whipped cream dalam keranjang masih ada di tanganku. Mum sebentar lagi pasti menelpon karena dia membutuhkan bahan ini untuk bisa segera memanggang Pavlova-nya di oven.
Saira mulai tidak mempedulikanku karena dia harus makan. Melihat caranya makannya yang lahap, dia pasti sangat lapar. Apa yang kulihat darinya semakin membuatku penasaran. Apakah yang dia lakukan di Australia? Kenapa penampilannya begitu lusuh dan kotor? Dengan siapa dia tinggal? Aku ingin menanyakan itu segera, tapi aku tidak mau hujan pertanyaan malah membuatnya menghindar. Bukankah Saira selalu tertutup? Susah payah menahannya pergi, aku tidak bisa membiarkannya masih menyisakan banyak misteri, walau kenyataannya segala sesuatu tentang Saira di dalam hidupku adalah misteri.
Dia selalu datang dan pergi sesuka hatinya; meninggalkan banyak pertanyaan yang tak bisa terjawab.
“Aku mau pulang ke Indonesia,” kata dia tiba-tiba. “Aku ingin segera pergi dari sini….”
Aku mendengarkannya dengan seksama, sebelum memikirkan satu pertanyaan dengan hati-hati. Mungkin aku harus memahami polanya lebih dulu sebelum melemparkan banyak pertanyaan. “Lalu?” tanyaku, berusaha mengikuti alur pembicaraan Saira selanjutnya.
“Aku menunggu seseorang menjemput, tapi dia belum datang….,” jawab dia.
“Siapa? Pacar kamu?” balasku, dan Saira sedikit tercengang, sebelum tertunduk sejenak. Dan ia mengalihkan ekspresi sedihnya dengan meminum soda dari gelasnya. Tiba-tiba dia tertawa pelan.
“Pacar?” balas dia, mulai terkekeh seperti penghinaan terhadapku. “Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku masih selera sama laki-laki….”
“Oh, jadi sekarang kamu seorang lesbian?” balasku.
Saira tertawa makin keras. “Kamu pikir begitu?” balas dia.
Sudah lama sekali aku tidak mendengar dia memanggilku dengan nama itu. Ternyata dia belum lupa walaupun mungkin orientasi seksualnya mungkin sudah berubah.
“Aku nggak percaya siapa-siapa,” dia menegaskan padaku.
“Aku minta maaf soal itu,” kataku, rasanya dia pernah bicara tentang kepercayaan terhadap seseorang dulu.
“Soal apa?” balas dia, cepat. “Soal cewek di apartemen?”
Aku mengalihkan pandanganku sejenak, karena kejadian itu masih saja membuatku sesak setiap mengingatnya. Entah mengapa Saira bisa tertawa seakan itu lucu. Dia seolah menikmati kebingunganku. Atau mungkin saja dia sudah tidak peduli.
“Itu sudah lama,” dia mengingatkan. “Semuanya sudah berubah. Apa lagi sekarang?”
Aku diam.
Saira kembali berdiri. “Aku harus pergi,” kata dia. “Makasih makan siangnya. Kebetulan aku juga nggak punya uang.”
“Bukan kebetulan. Sepertinya kamu memang nggak pernah punya uang,” balasku.
Saira menarik nafas. “Ya, kenapa kalau aku nggak punya uang?” celetuknya sambil beranjak dari kursi, tampak serius ingin pergi.
Aku mengambil dompet, dan mencabut semua uang tunai yang kusimpan di dalamnya dan menaruhnya di atas meja. “Ambillah,” kataku, “Kamu mungkin membutuhkannya.”
“Aku nggak butuh uang sebanyak itu. Sebentar lagi aku juga pulang,” dia masih berusaha menolak.
“Lalu ibu kamu?”
“Seperti biasa. Dia nggak terlalu peduli.”
Aku pun ikut berdiri. “Kamu sudah menelepon ayah kamu? Di mana dia sekarang?”
“Itulah masalahnya. Aku sama sekali nggak punya handphone untuk ngasih tahu Papa kalau aku sudah keluar…,” kata dia, masih terkekeh. “Aku juga nggak tahu dia di mana sekarang?”
“Keluar dari mana?” tanyaku heran dan seketika Saira tersentak.
Dia tidak langsung menjawab. Sekilas aku merasa dia terdiam karena sedang menyembunyikan sesuatu lagi.
“Aku nggak ngerti sama kamu. Keluar dengan penampilan seperti itu. Nggak punya uang dan handphone. Kamu maunya apa sih?” tanyaku semakin tidak habis pikir.
“Ya begitulah….” Jawab dia acuh.
Lalu aku mengeluarkan ponselku. “Sekarang telpon ayah kamu supaya dia nggak cemas,” kataku.
Saira sempat termangu. “Panggilan internasional? Mungkin Papaku masih di Indonesia.” Jawab dia.
“Apa?!” aku semakin tidak mengerti dengannya. Sebenarnya apa yang dia lakukan di sini? Kenapa ini mulai berbelit-belit?
“Telpon aja. Nggak apa-apa,” kataku akhirnya.
Dengan ragu-ragu Saira mengambil ponselku dan dia mulai memencet sebuah nomor telpon. Tapi, dia memilih menjauh dariku saat bicara dengan ayahnya. Entah apa yang mereka bicarakan cukup lama. Lalu Saira kembali padaku dengan wajah sedih.
“Makasih banyak…,” ucapnya.
Aku masih bertanya-tanya. Setelah tadi dia tampak lega bisa bicara dengan ayahnya, sekarang dia sedih. Aku pikir dia akan pergi lagi, menghindar saat dia tidak ingin bicara, tapi nyatanya ia kembali duduk di kursi yang sempat ia tinggalkan. Mungkin dia sudah tak tahan karena akhirnya dia menangis. Menangis sampai tersedu-sedu.
Ada apa lagi dengannya?
“Saira?” tegurku, karena sekarang ia tampak putus asa akan sesuatu. Apa ayahnya memberinya sebuah kabar buruk? Kurasa….
“Sial…,” gumam dia pelan, tapi menggerutu. Ia menghembuskan nafas lelah lalu menyeka air matanya.
“Hei…,” tegurku lagi. “Ada apa sih?”
Dia mengangkat kepalanya sambil menghapus air matanya, tapi gagal berhenti terisak. Sungguh, aku belum pernah melihatnya menangis sampai seperti itu sebelumnya. “Papa nggak bisa ke sini…,” katanya. “Dia nggak bisa jemput aku….”
“Kenapa?” tanyaku dan Saira menggeleng-geleng. “Saira?”
Aku diam sambil memperhatikannya menangis tersedu-sedu sampai beberapa orang lain di restoran sampai memandangiku.
“Apa karena nggak punya uang?” tanyaku dan Saira hanya menatapku. Aku menganggapnya sebagai jawaban iya.
Saira kembali tertunduk sedih.
“Oke, aku akan belikan tiket pulang,” kataku. “Sekarang bilang kamu tinggal di mana, aku antar pulang. Aku akan menyelesaikan masalah tiketnya, oke?”
Gadis itu kembali termangu. Dari tadi seringkali ia hanya terdiam menatapku bingung. “Aku nggak punya tempat tinggal.”
“Jangan bilang kamu menggelandang selama di sini!” emosiku terpancing karena dia membuatku semakin tidak mengerti.
Saira menggeleng. “Lebih buruk dari gelandangan….,” katanya. Tapi, tidak cukup meyakinkan.
“Kalau kamu nggak punya tempat tinggal terus kamu tinggal di mana selama ini?”
Lagi-lagi dia diam. Aku mulai membuat drama di pikiranku. Apa Saira tinggal dengan kekasihnya lalu setelah hubungan berakhir dia diusir? Lihat saja dia, dia tidak punya apa-apa selain dari yang dia kenakan di badan. Ya ampun, kenapa dia menjadi menyedihkan begini?
“Sidney…,” dia memanggilku. “Kamu bisa berhenti teriak-teriak?” tanyanya, tampak memohon dan seketika aku diam.
***
Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 10 (Hal.26)
Sеkіаnlаh artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 10 (Hal.26) kаlі іnі, mudаh-mudаhаn bіѕа mеmbеrі mаnfааt untuk anda ѕеmuа. bаіklаh, ѕаmраі jumра dі postingan artikel lаіnnуа.
Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 10 (Hal.26) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-what-they-say-about_41.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 10 (Hal.26)"
Post a Comment