Judul : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 11 (Hal.30)
link : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 11 (Hal.30)
[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 11 (Hal.30)
Sepanjang jalan dia diam. Aku sesekali melirik ke samping di mana dia mengamati setap ruas jalan yang kami lewati. Ya, dia terpana seakan memang pertama kali berjalan-jalan di kota seperti ini. Selagi aku berusaha menyimpulkan apa yang terjadi padanya selama enam tahun ini bila memang dia tidak berbohong, Saira lagi-lagi tidak mempedulikanku.
Namun, ada semacam perasaan berdebar sejak dia naik mobilku dan tiba-tiba aku berhenti menjadi orang yang nyinyir. Melihat kulit kecoklatan pembalut tulang-tulangnya, aku ragu, enam tahun ini Saira hidup dengan layak. Satu hal yang terbesit saat memperhatikan tindik di hidungnya adalah mungkin Saira telah terjerumus ke dalam pergaulan yang salah; bisa saja dia seorang pemakai atau pengedar obat terlarang, terlibat dengan gembong narkotik, disandera, dan benar-benar menderita. Tapi, setahuku, tidak ada yang bisa selamat dari gembong narkotik, apalagi seorang gadis muda. Semakin memikirkannya, aku merinding, dia masih hidup, bernafas walaupun kurus kering.
Harbour Bridge sudah terlihat. Saira langsung mendongak keluar jendela. Dia tampak takjub melihat gedung keong berada di antara lampu-lampu. Sayangnya, karena sudah malam kami tidak bisa masuk ke sana. Jika saja dia mau menunggu sampai besok mungkin kami akan bisa menikmati pertunjukan teater yang biasa digelar di sana. Namun, di samping Saira tampaknya ingin melihat landmark itu, ia juga ingin cepat-cepat meninggalkan Australia. Ini sebuah pertanyaan besar lagi; kenapa?
Aku berhenti di Hickson Road karena Saira memintanya. Keseluruhan gedung keong terlihat indah di tambah cahaya lampu yang mengitari Teluk Sydney. Entah kebetulan atau apalah namanya, ini adalah titik yang sama aku dan Magisa bertemu setelah pemakaman ayahku. Di sinilah aku memutuskan untuk melupakan Saira dan menerima perempuan lain dalam hidupku. Aku tidak pernah tahu aku akan kembali lagi ke sini; bersama gadis yang telah kulupakan itu. Seakan Opera House Sydney kesal padaku, dia mengembalikan Saira di saat… hatiku sudah menjadi milik orang lain.
Apa yang bisa kukatakan tentang ini, selain bahwa semuanya sudah sangat terlambat?
“Kamu nggak mau nunggu sampai besok untuk pertunjukannya?” tanyaku, ikut memandang Opera House Sydney.
“Aku nggak ingin tinggal lebih lama. Udara di sini kadang bikin aku sesak,” jelasnya. “Aku sudah ada di Sydney, lalu apa?”
“Apa setelah kamu kembali kita nggak akan bertemu lagi?”
“Sidney, kalaupun kita bertemu lagi, apa yang akan kita lakukan?” balas dia. ”Aku nggak mau mengganggu rumah tangga orang, lagipula aku sudah melupakan semuanya....”
Kata ‘melupakan’ yang terlontar dari bibirnya sedikit membuatku syok. Entah mengapa.
“Tujuh tahun waktu yang cukup lama mengubah banyak hal…,” dia mengingatkanku.
“Ya, kamu benar,” kataku. “Apa gunanya kita bertemu lagi?”
Saira pun diam.
Meski pun sudah larut, aku masih menemukan beberapa orang pelancong yang asyik befoto di ujung. Saira memandang mereka sebentar, sebelum gedung keong benar-benar menyita perhatiannya. Ia terdiam sangat lama; tepatnya termenung. Dan aku hanya bersadar dengan lelah, menunggu Saira puas dengan pemandangan, lalu pergi.
“Jadi kalian menetap di sini sekarang?” Saira bertanya tiba-tiba dan aku menggeleng dengan lesu.
“Di Jakarta. Sebenarnya dalam waktu dekat aku juga akan kembali ke Jakarta. Magisa di sana,” jelasku.
“Oh ya?” hanya itu yang Saira katakan. Ekspresinya datar. “Pasti menyenangkan….”
“Ya…,”
Lalu hening lagi. Angin laut bertiup dengan dinginnya sampai Saira harus memeluk dirinya di dalam jaket lusuh yang membalut tubuh kurusnya.
“Kamu sama sekali nggak punya barang bawaan?” tanyaku.
“Tadi masih ada. Seseorang mencurinya karena dia pikir aku membawa barang berharga,” jelasnya. “Ternyata ada kota yang lebih kejam dari Jakarta. Entah karena di sini aku kelihatan kayak sasaran empuk penjahat… aneh....”
“Kamu nggak lapor polisi?”
“Di dalamnya juga nggak ada barang berharga. Cuma baju-baju yang sama jeleknya dengan yang aku pakai sekarang,” jelas dia. “Aku benar-benar kelihatan kayak imigran gelap. Aku nggak mau masuk kantor polisi lagi…”
“Kamu nggak pernah belajar?”
Dia menatapku. “Kamu nggak tahu apa yang aku lalui,” dia meyakinkanku bahwa dia tidak ingin menjelaskan apa-apa soal itu.
“Apa yang terjadi sama kamu, Saira?” aku bertanya lagi, sambil mendekat dan kuraih lengannya.
Tapi, Saira langsung menepiskannya. Dia menarik tangannya, menatapku tegang; reaksi yang sangat berlebihan seolah dia merasa jijik denganku. “Jangan sentuh!” dia berteriak; suaranya keras sampai aku terkejut.
Tidak satu pun kata yang terucap dariku karena sikapnya itu. Aku masih heran, apalagi di saat Saira menjauh beberapa langkah sambil menatapku dengan wajah ketakutan. Akhirnya, aku hanya membiarkannya berada dalam jarak satu meter dariku. Aku sedang tidak ingin bertanya, karena dia memang aneh. Dia benar-benar tidak bisa dimengerti.
“Aku… hanya nggak suka…,” kata dia, suaranya rendah dan pelan. Kusadari jarak kembali berkurang dari tempatku berdiri dan bertanya-tanya. “Aku….”
“Kamu jijik sama laki-laki karena sekarang kamu lesbian?” tanyaku, tanpa menatapnya sama sekali.
“Aku bukan lesbian!” bantah dia, lagi-lagi dengan teriakan, meskipun tidak sekeras yang tadi, dia masih saja membuatku bingung. “Aku….”
“Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa,” kataku akhirnya. “Kalau kamu mau pulang ke Indonesia besok, aku akan belikan tiket.”
Ya, giliran Saira yang terdiam.
Aku tidak tahu ada apa dengan diriku. Aku tahu sikapku sangat menggelikan, namun aku tidak bisa menghentikan diriku menunjukan padanya bahwa aku masih memikirkannya, terlebih beakangan ini karena sering memimpikannya. Akuhanya tidak sadar bahwa mimpi itu adalah pertanda bahwa hari ini kami bertemu lagi, sedikit membicarakan masa lalu dengan emosional, mencabik hati masing-masing, lalu saling diam.
“Ini sudah jam tiga pagi,” aku mengingatkannya. “Malam ini aku antar kamu ke hotel supaya kamu bisa istirahat sampai aku mengantarkan tiketnya.”
Ya, Saira tidak membantah semua yang kukatakan. Dia tidak mengangguk. Hanya menatapiku seperti merasa bersalah telah meledekku dengan sikapnya.
“Aku tunggu kamu di mobil sampai kamu puas di sini,” kataku sambil melangkah, meninggalkannya. Kurasa saat ini, menghindari konfrontasi dengan Saira adalah satu bentuk kedewasaaan. Berkali-kali sejak tadi, kami seperti sepasang remaja yang terus saja bertengkar; aku muak. “Jangan sampai kamu menghilang. Kalau benar kamu nggak bohong soal nggak punya apa-apa, berarti tanpa aku kamu nggak akan bisa pulang.”
***
Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 11 (Hal.30)
Sеkіаnlаh artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 11 (Hal.30) kаlі іnі, mudаh-mudаhаn bіѕа mеmbеrі mаnfааt untuk anda ѕеmuа. bаіklаh, ѕаmраі jumра dі postingan artikel lаіnnуа.
Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 11 (Hal.30) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-what-they-say-about_31.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 11 (Hal.30)"
Post a Comment