Judul : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 19 (Hal.59)
link : [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 19 (Hal.59)
[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 19 (Hal.59)
Sudah lama aku tidak merasa selelah ini. Setelah jam-jam menyenangkan di mana aku terbawa eforia Saira dan Sunny, aku kembali muram dalam perjalanan pulang. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melupakan Magisa sejenak. Tiba-tiba aku merasa khawatir bagaimana jika perasaan yang aneh ini tidak kunjung reda. Lelaki sejati harusnya setia pada cintanya. Tapi, setelah bertemu Saira lagi, aku jadi mempertanyakan siapa yang aku cintai sebenarnya?
Aku sudah berselingkuh itu jelas. Meskipun itu dengan seorang perempuan –yang harus kuakui, adalah seseorang yang seharusnya memiliki semua cintaku, itu tetap kesalahan. Saira tidak menolakku ketika aku menciumnya dan malam seperti di Hyatt terjadi lagi, meski pun itu hanya di mobil dan dalam waktu yang singkat. Dan sialnya aku tidak merasa puas dengan itu; aku semakin menginginkannya dan kalau saja Magisa tidak sedang dalam keadaan mengkhawatirkan sekarang, entah. Aku akan membuat alasan untuk tidak pulang malam ini.
Beberapa bulan yang lalu, aku dan Magisa begitu bahagia, seolah dunia ini hanya ada kami di dalamnya. Rumah baru, kehidupan baru, tahap hubungan yang baru, semua itu kupikir akan mengisi kekosongan di antara kami. Pindah ke Jakarta akhirnya tidak menjadi sesuai harapan. Banyak hal yang tak terduga.
Apa ini ujian yang jauh lebih berat lagi? Apa aku bisa melewatinya? Entahlah....
Aku membuka pintu dengan langkah gontai. Tanpa perlu melihat jam tangan, aku tahu ini sudah malam. Aku sudah menyiapkan jawaban yang pas apabila Magisa mengeluh soal keterlambatanku; Jakarta itu memang macet. Tapi, aku juga yakin dia tidak seperhatian itu lagi sekarang walaupun tetap saja suka mencurigai dan cemburu. Aku tidak ingin memikirkannya dulu.
Tapi, Magisa menyambutku dengan makan malam di meja makan. Aku sangat terkejut dia menyiapkan banyak menu kesukaanku. Dan bahkan dia menyambutku dengan senyuman hangat. Aku pikir aku sedang bermimpi tapi itu benar.
Tampaknya dia sudah mulai normal.
Hanya saja... aku tidak terlalu senang. Seluruh bagian dari tubuhku masih terjebak dalam sesuatu di mobil tadi. Aku kelelahan. Kata-kata Saira yang tajam masih terngiang di benakku. APA YANG TERJADI PADANYA ADALAH SALAHKU, dia membisikan itu di telingaku berulang kali. Bagaimana bisa aku menikmati makan malam dengan tenang sekali pun melihat istriku sudah membaik? Sepintas aku merasa, bukan inilah yang aku butuhkan sekarang.
Aku membutuhkan Saira; aku belum bisa berpindah. Bahkan saat akhirnya Magisa memelukku di atas ranjang, aku nyaris mati rasa. Aku memandang wajahnya, mencoba menemukan sesuatu yang bisa membangkitkan kembali rasa sebelum Magisa terguncang. Namun aku gagal. Aku memang bercinta dengannya lagi; setelah sekian lama tapi rasanya tidak lagi sama. Hambar. Dan bercinta dengan orang yang berbeda dalam jarak yang tak terlalu lama membuatku sangat kewalahan.
Aku lelaki brengsek.
“Aku sudah memikirkannya, Sid,” Magisa berkata di telingaku. Suaranya kedengaran manja. “Apa yang nggak membuatku bahagia belakangan ini....”
Apa pun itu aku tidak peduli. Aku sudah jera menghadapi sikapnya yang tak mudah dimengerti.
“Sidney Sayang...,” Magisa mengalungkan kedua lengannya di dadaku; menegaskan bahwa aku adalah miliknya yang berharga dan sempat hilang sehingga ia memelukku begitu erat.
Aku bisa merasakannya bernafas di punggungku dan aku mendengarkan walaupun aku masih memikirkan Saira. Mengingat setiap detail rasa ketika aku berada di dalam dirinya, menatap wajahnya yang begitu dekat dan merasakan dia bernafas di pundakku.
“Bagaimana kalau kita kembali ke Australia?” dia menanyaiku seperti mengucapkan sebuah permohonan. “Aku pikir... Jakarta memiliki banyak kenangan yang buruk buat aku, buat kamu juga... kamu ingat, di Australia kita hidup bahagia. Walaupun kamu sering pulang telat dan aku sendirian, tapi kita tetap bahagia....”
Aku tidak menjawab.
“I love you, Sidney...,” ucapnya sambil membenamkan wajahnya di punggungku.
Aku tidak ingin meninggalkan Jakarta begitu saja. Magisa tidak bisa begitu saja membalikan keadaan setelah kami kembali seperti semula. Tidak, tidak bisa seperti itu. Perasaanku sudah berubah walaupun aku tak menginginkannya. Tapi, aku tak bisa meningkari bahwa bahagiaku berada di sekolah itu; bersama anak-anak; memperhatikan mereka; dan tentu saja bertindak seperti orang tua mereka. Magisa tidak akan memahami perasaan seperti itu.
***
Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 19 (Hal.59)
Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 19 (Hal.59) dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-what-they-say-about_2.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa] What They Say About You Ch. 19 (Hal.59)"
Post a Comment