Judul : [Baca Novel Dewasa ] My Evil Man Ch. 17 (Hal. 60) - Part of Something
link : [Baca Novel Dewasa ] My Evil Man Ch. 17 (Hal. 60) - Part of Something
[Baca Novel Dewasa ] My Evil Man Ch. 17 (Hal. 60) - Part of Something
“Eh, Bell, kamu tahu nggak sih kalau sebenarnya Nial dekat juga sama Tante Maya?” tanya Wanda dan itu sedikit membuatku terkejut.
Aku melirik Nial. Dia nggak pernah bilang. Atau dia lupa? Dia saja bisa lupa memberitahuku kalau teman-temannya mau main ke rumah? Atau ini hanya soal waktu saja? Banyak hal yang belum aku tahu dan perlahan-lahan semua itu akan terbuka dengan sendirinya.
“Nial itu udah kayak anak pungutnya Tante Maya,” ledek Wanda dan semua tertawa kecuali Nial yang cemberut. “Kamu tahu, Bell, bahkan ‘dosa-dosa’ masa lalunya, Tante Maya tahu.”
Simon dan Wanda sama-sama cekikikan. Kelihatannya Simon lebih kalem, tapi ternyata mereka sama usilnya.
Termasuk soal mengganggu rumah tangga orang? Mamaku tahu? Masuk akal juga. Devon yang membawa Nial. Yang langsung terpikirkan olehku adalah... apakah Mama akan setuju dengan hubungan ini?
“Gue udah punya firasat jelek dari saat kalian bilang mau ke sini,” celetuk Nial, dia sedikit gusar tapi mencoba untuk nggak peduli. Mungkin sedikit lega karena dia sudah menceritakan sedikit tentang bagian terburuk dari dirinya. “Kalian pasti bakal ngebongkar aib gue.”
“Lo harusnya bersyukur kita nggak ngajakin Devon,” sambung Wanda. “Ya, lo tahu sendiri Devon kayak gimana. Tuh anak emang bisa jadi obat sekaligus racun.”
“Kenapa dia nggak ikutan?” tanya Nial.
“Biasa. Sibuk,” jawab Simon. “Kapan sih dia nggak sibuk?”
Benar ‘kan? Devon itu sepertinya berbahaya. Wanda dan Simon seolah menjauhkan Devon dari Nial. Seolah dia akan membawa Nial ke pengaruh yang buruk lagi.
“Apa dia nggak bakal sewot begitu tahu kalau kalian datang ke sini?” tanya Nial.
“Yang namanya Devon pasti sewotlah. Anak bontot,” jawab Wanda. “Lo nggak pernah komunikasi sama dia lagi?”
Nial menggeleng. “Terakhir gue telepon, dia ada di Wakatobi untuk pemotretan. Sekitar dua bulan yang lewat,” jawabnya. “Habis itu gue juga sibuk. Lo tahu sendiri bokap gue, kalau gue keseringan nggak masuk sebulan ngomelnya nggak hilang-hilang sampai Nyokap gue panik.”
Aku selalu berharap masa-masa ini berlangsung lebih lama. Kebahagiaan yang seolah bertumpuk sampai aku tak bisa menampungnya. Kedua saudara tiri yang menyenangkan dan seorang lelaki yang menggenggam tanganku di bawah meja setiap aku merasa cemas –seolah berisyarat semuanya akan baik-baik saja. Wanda dan Simon bukanlah orang lain, mereka adalah keluargaku sekarang. Mereka pasti akan mendukungku seperti mereka mendukung Nial.
Ya, keluarga. Sebuah keluarga. Dan ini nyata, nggak seperti halusinasi yang pernah aku miliki waktu kecil.
***
Aku menginginkan sebuah keluarga yang normal. Sementara yang kumiliki hanyalah seorang ayah bajingan dan ibu yang bekerja sebagai pengasuh di rumah keluarga kaya, juga seorang kakak perempuan yang berusaha mati-matian untuk bisa pergi dari rumah kami yang terkutuk. Nggak ada seorang pun yang memperhatikanku.
Satu kali aku pernah mencari ibuku ke tempat kerjanya –di sebuah rumah besar dengan pagar tinggi. Dari luar aku melihat ibuku bermain dengan tiga orang anak yang usianya lebih besar dariku di teras rumah. Mereka tertawa bahagia. Lalu aku pulang dengan sedih dan bertanya pada Ruby, “Apa Mama nggak sayang sama kita sampai dia nggak mau jagain kita dan malah jagain anak orang lain?”
Usiaku sembilan tahun dan Ruby, enam belas tahun. Aku rasa Ruby tahu apa yang harus dikatakannya padaku agar aku nggak bersedih. Mungkin dia bisa menjawab dengan yakin bahwa Mama hanya bekerja agar kita punya sesuatu untuk dimakan. Tapi, Ruby memang membenci keduanya, “Karena jagain kita nggak ngasih Mama uang.”
Ruby membuatku berpikiran kalau kami nggak lebih berharga dari uang. Tapi, sejak saat itu, aku terus memikirkan anak-anak yang diasuh Mama-ku. Sepertinya mereka anak-anak yang ceria dan menyenangkan. Lalu entah bagaimana aku mulai berkhayal, aku punya saudara seperti mereka –bukan yang pahit seperti Ruby.
Aku bahkan menamai mereka –tapi aku lupa, kata dokter aku harus melupakannya karena mereka nggak nyata. Bermain bersama di teras rumah dengan halaman yang ditumbuhi rumput dan bunga-bunga yang cantik, menikmati makan malam di satu meja dengan canda tawa, pergi ke sekolah bersama dengan jalan kaki, hal-hal yang aku pikir aku alami, semua itu hanya halusinasi.
Aku tertawa dan berlari dengan riang, mereka mengejarku dalam keceriaan yang sama. Tapi, sesungguhnya aku hanya duduk diam. Semua itu hanya ada di pikiranku. Namun, itu membuatku tetap hidup. Kehidupan palsu yang hanya aku sendiri yang bisa melihatnya. Hingga kemudian aku menunjukan pada orang-orang bahwa itu nyata. Di sekolah, aku mulai berbicara sendiri dan penyakit itu mulai terlihat, ketika kukatakan pada mereka bahwa aku punya tiga orang kakak yang akan melindungiku kalau ada yang jahat padaku. Dan anak-anak itu menertawaiku. Yang aku punya hanyalah seorang kakak yang nggak mempedulikanku, orang tuaku juga nggak menyayangiku.
***
Dеmіkіаnlаh Artikel [Baca Novel Dewasa ] My Evil Man Ch. 17 (Hal. 60) - Part of Something
Andа ѕеkаrаng mеmbаса artikel [Baca Novel Dewasa ] My Evil Man Ch. 17 (Hal. 60) - Part of Something dеngаn lіnk https://ebookzea.blogspot.com/2020/08/baca-novel-dewasa-my-evil-man-ch-17-hal_18.html

0 Response to "[Baca Novel Dewasa ] My Evil Man Ch. 17 (Hal. 60) - Part of Something"
Post a Comment